Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Illia Zabarnyi Kecewa Berat PSG Tersingkir dari Coupe de France

    January 13, 2026

    Bias Layar Resmi Anggota DPR Ganti Mukhatruddin

    January 13, 2026

    Kejar Target Pariwisata 2025, Gibran Dorong Perbaikan Infrastruktur Destinasi Wisata : Okezone Women

    January 13, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

    Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 13, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Pengamat politik Arifki Chaniago mengingatkan, pengalaman sejarah justru menunjukkan bahwa konflik Pilkada melalui DPRD kerap berawal dari pertarungan elit legislatif dan kemudian berujung pada kerusuhan massa.


    Menurut Arifki, anggapan bahwa Pilkada via DPRD lebih aman karena menjauhkan rakyat dari konflik merupakan logika keliru. Dalam praktiknya, sengketa elit, politik transaksional, serta kebuntuan pengambilan keputusan di DPRD sering kali memicu ledakan kemarahan publik.

    “Konflik Pilkada via DPRD tidak pernah steril. Ia hanya berpindah dari ruang terbuka ke ruang tertutup. Ketika konflik elit itu bocor ke publik, dampaknya justru lebih destruktif karena rakyat merasa dikhianati,” ujar Arifki kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 13 Januari 2026.



    Sejumlah daerah mencatat sejarah kelam akibat konflik Pilkada melalui DPRD. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (2000), perpecahan di tubuh DPRD dan tudingan politik uang memicu kerusuhan besar. Massa membakar gedung DPRD dan sejumlah fasilitas pemerintah hingga roda pemerintahan lumpuh selama berhari-hari. Sasaran amuk massa bukan pendukung kandidat lain, melainkan institusi negara.

    Konflik serupa terjadi di Maluku Utara (2001–2002) ketika DPRD gagal menghasilkan legitimasi tunggal dalam pemilihan gubernur. Dualisme kepemimpinan serta intervensi elit pusat memperuncing krisis politik dan memicu mobilisasi massa luas di tengah kondisi sosial yang rapuh.

    Di Jawa Timur (2003), pemilihan gubernur melalui DPRD juga memicu penolakan berkepanjangan. Sengketa elit tidak selesai di daerah, melainkan berlanjut ke tingkat nasional, menciptakan instabilitas politik dan tekanan massa yang berulang.

    Sementara itu, di Kalimantan Barat (2003) dan Sulawesi Selatan (awal 2000-an), konflik antarfraksi DPRD serta kegagalan membangun konsensus politik mendorong aksi massa besar, pendudukan gedung DPRD, hingga bentrokan dengan aparat keamanan.

    Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, Arifki menilai konflik Pilkada via DPRD memiliki pola yang sama. Pertama, konflik berangkat dari pertarungan elit di ruang sidang, bukan dari rivalitas pendukung di akar rumput. Kedua, ketika proses dinilai sarat transaksi dan menutup akses rakyat, kemarahan publik dialihkan langsung ke simbol-simbol negara. Ketiga, elit yang kalah dalam lobi DPRD kerap memobilisasi massa sebagai alat tekanan politik.

    “Dalam Pilkada via DPRD, rakyat tidak memiliki ruang untuk menyalurkan kekecewaan secara demokratis. Akibatnya, frustrasi itu meledak dalam bentuk kekerasan. Inilah yang membuat konflik elit justru lebih berbahaya,” kata Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia tersebut.

    Ia menambahkan, konflik semacam ini hampir selalu diselesaikan melalui intervensi pemerintah pusat, bukan mekanisme demokrasi lokal. Hal itu memperpanjang krisis legitimasi dan memperdalam ketidakpercayaan publik terhadap institusi politik.

    “Pilkada via DPRD bukan menghilangkan konflik, melainkan memindahkan episentrum konflik ke jantung kekuasaan daerah. Jika sejarah diabaikan, negara berisiko mengulang siklus konflik lama dengan ongkos sosial yang jauh lebih mahal,” pungkasnya.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Bias Layar Resmi Anggota DPR Ganti Mukhatruddin

    January 13, 2026

    DPR Belum Tahu Soal Penculikan Bajak Laut WNI di Afrika

    January 13, 2026

    Hampir Separuh Anggota DPR Absen di Rapat Awal Masa Sidang Usai Reses

    January 13, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Illia Zabarnyi Kecewa Berat PSG Tersingkir dari Coupe de France

    Berita Olahraga January 13, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Piala Prancis: Bek Paris Saint-Germain, Illia Zabarnyi, mengaku sangat kecewa setelah timnya dikalahkan…

    Bias Layar Resmi Anggota DPR Ganti Mukhatruddin

    January 13, 2026

    Kejar Target Pariwisata 2025, Gibran Dorong Perbaikan Infrastruktur Destinasi Wisata : Okezone Women

    January 13, 2026

    Paripurna Lantik Anggota DPR PAW Pengganti Menteri P2MI

    January 13, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Illia Zabarnyi Kecewa Berat PSG Tersingkir dari Coupe de France

    January 13, 2026

    Bias Layar Resmi Anggota DPR Ganti Mukhatruddin

    January 13, 2026

    Kejar Target Pariwisata 2025, Gibran Dorong Perbaikan Infrastruktur Destinasi Wisata : Okezone Women

    January 13, 2026

    Paripurna Lantik Anggota DPR PAW Pengganti Menteri P2MI

    January 13, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.