Kondisi inilah yang membuat penyakit kronis tersebut dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap.Beli vitamin dan suplemen
Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Agung Nugroho mengatakan, banyak penderita diabetes tidak menyadari kondisi kesehatannya hingga muncul komplikasi berat.
“Diabetes sering kali tidak terasa pada fase awal. Penderitanya masih bisa beraktivitas normal, sehingga gejalanya dianggap sepele dan tidak mendorong orang untuk segera memeriksakan diri,” kata Agung dalam keterangannya, dikutip Rabu 14 Januari 2026.
Berdasarkan data nasional, prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang diukur melalui pemeriksaan gula darah mencapai hampir 12 persen.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kasus yang terdiagnosis secara medis, menandakan masih besarnya fenomena undetected diabetes di Indonesia.
Agung menilai, kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, di tengah perubahan pola makan dan gaya hidup yang semakin tidak aktif.
“Sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, atau berat badan turun tanpa sebab jelas kerap dianggap hal biasa. Padahal itu bisa menjadi sinyal awal diabetes,” kata Agung.
Menurut Agung, bahaya utama diabetes bukan hanya pada penyakit itu sendiri, melainkan pada keterlambatan deteksi. Ketika kadar gula darah meningkat dalam waktu lama tanpa penanganan, tubuh dapat mengalami gangguan metabolisme serius yang membahayakan organ vital.
“Masalahnya, tubuh bisa terlihat baik-baik saja, padahal secara medis sudah berada dalam kondisi darurat. Inilah yang membuat diabetes sangat berbahaya,” kata Agung.
Rekan Indonesia menekankan bahwa deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan sederhana dan terjangkau, tanpa harus menunggu gejala berat muncul.
“Merasa sehat tidak selalu berarti bebas risiko,” pungkas Agung.

