Di tengah lanskap tropis Bali, perayaan ini tidak hanya menghadirkan suasana hangat, tetapi juga kesempatan untuk merasakan kekayaan budaya Tionghoa melalui kuliner dan tradisi yang penuh simbol. Perayaan tahun ini akan menjadi perpaduan antara penghormatan terhadap leluhur dan kenyamanan modern yang elegan.
Dalam tradisi Imlek, hidangan yang disajikan sarat makna. Hidangan Dimsum dan Lumpia yang terbalut dalam “Lunar New Year’s Eve Dinner” misalnya, melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Bebek Panggang dan Hidangan Tumi menjadi simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga. Sedangkan sajian mi dan ikan, sebagai doa untuk umur panjang dan rezeki yang terus mengalir.
Setiap sajian menjadi bagian dari ritual kebersamaan, mengajak anggota keluarga untuk berkumpul, saling berbagi cerita, dan merayakan awal tahun dengan hati yang hangat.
Suasana makan malam ini menciptakan ruang bagi lintas generasi, dari kakek-nenek hingga cucu, untuk berbagi cerita dalam balutan udara malam Bali yang tenang.
Bagi keluarga yang mencari suasana yang lebih intim, Lunar New Year Afternoon Tea akan menjadi saat-saat minum teh yang meneyenangkan. Tradisi minum teh sore ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Menghadap cakrawala laut yang luas, momen ini diisi dengan kudapan tangan yang terinspirasi dari filosofi Asia, seperti kue jeruk mandarin dan pangsit money bag yang melambangkan keberuntungan.
Di sini, waktu seolah melambat. Sambil menikmati teh premium, keluarga memiliki kesempatan untuk merajut kembali kedekatan di tengah hiruk-pikuk dunia luar, menciptakan kenangan baru dalam bingkai tradisi yang tak lekang oleh waktu.
Bagi Go Kondo, General Manager The Ritz-Carlton, Bali., perayaan ini lebih dari sekadar jamuan makan.
Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa nilai-nilai kekeluargaan dan kekayaan budaya Asia tetap terjaga, meski dirayakan jauh dari rumah. Tim kuliner yang bertugas berusaha menghadirkan rasa yang otentik agar setiap tamu tetap merasakan kehangatan rumah di dalam lingkungan mewah yang menenangkan.

