Jakarta, CNN Indonesia —
Kapal wisata KM Prestige Voyager yang membawa belasan turis China sempat kandas selama sekitar empat jam di Perairan Pulau Aroborek, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, Selasa (13/1) lalu.
Kapal itu membawa 19 turis asal China dan lima wisatawan domestik. Diduga insiden terjadi saat kapal berupaya menghindari cuaca buruk dengan angin barat laut yang cukup kencang usai mengantar wisatawan menyelam di perairan Yanggefo.
Meskipun demikian, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) akan membentuk tim investigasi untuk menyelidiki secara menyeluruh dugaan kerusakan terumbu karang akibat kandasnya kapal wisata tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Barat Daya Julian Kelly Kambu mengatakan langkah itu diambil untuk memastikan ekosistem laut di kawasan wisata bahari kelas dunia itu tetap aman dan terlindungi.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Raja Ampat. Ini sangat penting untuk memastikan proses penanganan lingkungan berjalan sesuai ketentuan,” katanya di Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (16/1) seperti dikutip dari Antara.
Kendati demikian, kata dia, tindak lanjut pasti akan dilakukan sama seperti sebelumnya ketika ada kejadian kapal menabrak atau kandas di atas terumbu karang di Raja Ampat.
Ia mengatakan penanganan insiden tidak hanya fokus pada keselamatan penumpang, tetapi juga harus menjamin perlindungan lingkungan laut Raja Ampat.
Kelly menegaskan Perairan Raja Ampat dikenal memiliki terumbu karang terbaik di dunia dan menjadi habitat ribuan spesies ikan.
Aturan ketat pelayaran di kawasan wisata bahari
Menurut Kelly, insiden kapal wisata yang menabrak atau kandas di atas terumbu karang bukan kali pertama terjadi di Raja Ampat.
Ia mendorong adanya rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk merumuskan aturan pelayaran yang lebih ketat di kawasan wisata bahari.
“Harus ada kesepakatan bersama. Apakah kapal wisata masih boleh berlayar di spot tertentu atau perlu pembatasan khusus, ini harus diputuskan lintas OPD agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujar Kelly.
Menurutnya kecelakaan pelayaran di Raja Ampat menjadi indikasi lemahnya komunikasi dan koordinasi lintas instansi dalam pengawasan. Ke depan, pengawasan di kawasan konservasi laut tersebut harus diperkuat secara berkelanjutan.
“Ini harus menjadi perhatian kita semua. Raja Ampat sangat sensitif terhadap aktivitas pelayaran. Pengawasan harus diperketat agar kejadian kapal tabrak karang tidak terus berulang,” katanya.
Dugaan kronologi kapal kandas
KM Prestige Voyager kandas di perairan Pulau Aroborek pada Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 17.30 WIT.
Insiden itu diduga terjadi saat kapal berupaya menghindari cuaca buruk usai mengantar wisatawan menyelam di perairan Yanggefo.
Dari laporan yang diterima, saat cuaca buruk itu, dalam manuver mencari lokasi aman, kapal kandas di koordinat 0°30’902″ LS dan 130°33’170″ BT.
Lokasi kandasnya adalah perairan yang didominasi terumbu karang.
Sebelumnya nakhoda kapal memutuskan menuju Yenbeser sebagai lokasi berlindung, karena saat itu angin bertiup cukup kencang dari arah barat laut. Nakhoda melakukan itu dengan tujuan menjaga keselamatan penumpang, kapal, dan kru.
“Sekitar pukul 16.30 WIT, KM Prestige Voyager mengantarkan para tamu untuk kegiatan menyelam di Perairan Yanggefo. Kemudian sekitar pukul 17.30 WIT kapal bertolak mencari tempat berlindung karena cuaca buruk,” ujar Kasat Polair Polres Raja Ampat Ipda Feni Maulana, Kamis (15/1).
Namun dalam perjalanan mencari perlindungan, lanjutnya, kapal mengalami kandas akibat kondisi air laut surut di sekitar Perairan Pulau Aroborek.
Berdasarkan keterangan sementara, kondisi air laut yang surut memperparah situasi hingga lambung kapal menyentuh dasar perairan.
Upaya olah gerak dilakukan selama beberapa jam hingga kapal berhasil lepas sekitar pukul 22.30 WIT dan kemudian lego jangkar di area aman sebelum melanjutkan pelayaran menuju Sorong.
Feno mengatakan seluruh penumpang KM Prestige Voyager selamat dalam peristiwa itu.
Selain itu, dia bilang pihaknya masih melakukan penyelidikan lanjutan untuk memastikan tingkat kerusakan terumbu karang di lokasi kejadian.
Kapal itu sendiri sudah kembali menuju Sorong setelah lepas dari perairan tersebut.
(antara/kid)
[Gambas:Video CNN]

