Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan akhirnya resmi beroperasi. (Foto: Okezone.com/Setpres)
JAKARTA – Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan akhirnya resmi beroperasi. Setelah beberapa kali tertunda akibat berbagai insiden, termasuk kebakaran, RDMP terbesar di Indonesia ini diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 12 Januari 2026.
Proyek ini menelan biaya USD7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas produksi minyak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain itu, proyek ini menyerap hingga 24 ribu tenaga kerja serta mampu menekan biaya impor BBM lebih dari Rp60 triliun.
Berikut fakta-fakta menarik terkait RDMP Balikpapan dan cerita-cerita seru sebelum akhirnya diresmikan:
1. Ada Pihak yang Tidak Rela RDMP Balikpapan Diresmikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menceritakan dinamika proyek RDMP Balikpapan. Padahal, proyek ini seharusnya sudah diresmikan pada awal Mei 2024.
“Tapi ini, Pak, terbakar. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah dibakar sengaja atau karena faktor lain,” ujar Bahlil.
Oleh karena itu, pada Agustus lalu, ia memerintahkan Inspektur Jenderal (Irjen) ESDM yang juga menjabat sebagai Komisaris Pertamina untuk melakukan investigasi mendalam terhadap proyek RDMP Balikpapan. Ternyata, tegas Bahlil, memang ada pihak-pihak yang tidak ingin RDMP Balikpapan diresmikan.
“Barang ini, Pak, ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela jika kita punya cadangan dan swasembada energi, agar impor terus berlanjut. Kita harus hadapi dan menyelesaikannya dalam waktu tidak lama lagi, Pak,” tegas Bahlil.
2. RI Stop Impor Solar
Proyek RDMP Balikpapan menelan biaya USD7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Sebagai RDMP terbesar di Indonesia, proyek ini meningkatkan produksi minyak dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
“Ini ada yang bagus, Bapak Presiden. Dengan RDMP ini, kita bisa menghemat devisa kurang lebih Rp60 triliun, karena bisa menambah 100 ribu barel. Dengan tambahan ini, kita bisa menghasilkan 5,8 juta kiloliter per tahun,” ujarnya.
Bahlil menyampaikan, konsumsi bensin di Indonesia mencapai 38 juta kiloliter per tahun, sementara produksi dalam negeri sebesar 14,25 juta kiloliter. Artinya, dengan tambahan produksi dari RDMP Balikpapan sebesar 5,8 juta kiloliter, impor bensin Indonesia tinggal 19 juta kiloliter.
“Sementara untuk solar, tahun ini alhamdulillah kita bicara tidak ada lagi impor solar ke depan. Kebutuhan solar kita total 38 juta kiloliter. Dengan B40 dan B60, ditambah produksi RDMP hampir 5 juta kiloliter, impor kita yang 5 juta kiloliter sudah tertutupi, bahkan surplus 1,4 juta kiloliter. Itu untuk solar C48,” ujarnya.

