Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Scott Parker Pastikan Kesiapan Burnley Hadapi Liverpool

    January 17, 2026

    Skandal Dana Syariah Indonesia Gunakan Skema Ponzi Hingga Proyek Fiktif

    January 17, 2026

    Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros Angkut 11 Orang, Ini Identitasnya : Okezone News

    January 17, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Kotak Pandora Perubahan dan Hambatan Kelembagaan

    Kotak Pandora Perubahan dan Hambatan Kelembagaan

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 17, 2026No Comments6 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Itu adalah hari-hari pertama saya mengetahui bahwa saya dipilih menjadi Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi. Lama saya merenung. Legacy apa yang akan saya ikut bangun bagi dunia energi Indonesia?


    Di layar handphone, setelah semalaman melakukan riset dan refleksi diri, muncul satu angka menyala seperti penanda arah: 1.000.000 barrel per day di tahun 2029.

    Angka itu tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan sejarah, teknologi, birokrasi, dan keberanian di dunia energi.



    Ia bukan sekadar target produksi. Ia adalah pertaruhan kemandirian energi bangsa.

    Target ini seperti kotak Pandora. Dibuka, ia mengeluarkan harapan dan risiko sekaligus. Ditutup, ia membiarkan ketergantungan energi menjadi nasib yang tak pernah ditantang.

    Ketika saya dilantik menjadi Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, saya tidak ingin sekadar menyetujui atau menolak proposal Direksi.
    Peran itu terlalu mudah. Dan terlalu aman.

    Saya, bersama rekan-rekan komisaris lain, memilih untuk menantang. Menantang Direksi agar tidak puas pada skenario moderat.

    Menantang organisasi agar tidak terjebak pada kenyamanan. Menantang sistem agar bergerak lebih cepat menuju kemandirian energi.

    Target 1 juta barrel per day pada 2029 lahir dari kesadaran yang pahit. Defisit neraca minyak Indonesia telah mendekati 1 juta barrel per hari.
    Inilah titik paling rapuh dalam ketahanan energi nasional.

    Jika tidak dikejar sekarang, harga yang harus dibayar akan jauh lebih mahal. Bukan hanya dalam dolar, tetapi dalam kedaulatan.

    Keberanian tanpa bukti adalah kesombongan. Karena itu Dewan Komisaris PHE, dengan persetujuan Direksi, menyewa konsultan independen.

    Lemigas diminta memimpin kajian. Hasilnya adalah buku strategis ini berjudul Tinjauan terhadap Aspirasi 1M29 (1 juta barrel per day di tahun 2029).

    Buku ini disusun oleh tim lintas disiplin. Insinyur perminyakan, ekonom energi, dan pakar kebijakan. Mereka menulis bukan untuk menyenangkan, melainkan untuk jujur.

    Kesimpulannya tegas.
    Dengan skenario yang ada, produksi maksimum realistis pada 2029 berada di sekitar 838 ribu barrel per day. Terdapat selisih sekitar 162 ribu barrel per day dari target.

    Namun 1 juta barrel per day di tahun 2029 masih mungkin dicapai, dengan syarat-syarat tertentu. Di situlah kotak Pandora terbuka sepenuhnya.

    Sebagian besar wilayah kerja PHE adalah lapangan mature. Lapangan tua memiliki pola yang seragam.

    Biaya meningkat. Risiko membesar. Tambahan produksi menjadi semakin mahal. Menjaga baseline saja sudah menyerap energi organisasi.

    Terobosan sulit lahir bila seluruh tenaga habis untuk bertahan.

    Eksplorasi pun menghadapi keterbatasan. Cadangan yang ada belum cukup menopang aspirasi 1M29. Discovery baru cenderung memakan waktu panjang, sering kali melampaui 2029. Data tidak selalu ideal.

    Harapan besar muncul dari Rokan, Chemical EOR, reservoir berkualitas rendah, dan migas nonkonvensional.

    Namun buku ini mengingatkan satu hal penting. Potensi bukan produksi. Teknologi bukan volume.

    Tantangan sesungguhnya adalah eksekusi. Pengadaan. Pembiayaan. Manajemen proyek. Dan kemampuan menyelesaikan tepat waktu.

    Industri migas bukan sekadar soal teknik. Ia adalah soal deliverability.

    Di sinilah buku ini menjadi sangat jujur. Hambatan terbesar sering kali bukan geologi, melainkan kelembagaan.

    Perizinan yang berlapis. Regulasi yang tidak sinkron. Ketidakpastian fiskal. Dan ketakutan akan kriminalisasi keputusan bisnis.

    Ketakutan ini jarang tertulis di dokumen resmi. Namun ia hidup dalam setiap rapat. Ia menahan keberanian, terutama pada eksplorasi berisiko dan transaksi M&A.

    Padahal, 1 juta barrel per day di tahun 2029 tidak mungkin dicapai dengan keberanian setengah hati.

    Dua buku dapat memperkaya bahasan ini. Pertama, karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, Why Nations Fail (2012).

    Buku ini mengajukan satu tesis yang mengguncang keyakinan lama: bangsa gagal bukan karena miskin sumber daya, bukan karena kurang cerdas, dan bukan karena nasib.

    Bangsa gagal karena institusinya gagal memberi ruang pada keberanian yang bertanggung jawab.

    Acemoglu dan Robinson membedakan dua jenis institusi. Institusi inklusif mendorong inovasi, melindungi pengambil risiko, dan menghargai kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

    Sebaliknya, institusi ekstraktif membunuh inisiatif melalui ketakutan, birokrasi berlebih, dan insentif yang salah.

    Dalam konteks 1 juta barrel per day, buku ini terasa seperti cermin yang jujur. Cadangan bisa ada, teknologi bisa tersedia, dan modal bisa dihimpun.

    Namun jika perizinan lambat, keputusan bisnis rentan dikriminalisasi, dan kegagalan berujung penjara, maka produksi akan stagnan.

    Tantangan terbesar sebuah bangsa bukan menemukan sumber daya baru, melainkan membangun sistem yang berani mengelola risiko.

    Di titik ini, mengejar 1 juta barrel per day bukan lagi target teknis. Ia adalah ujian apakah negara mampu membangun institusi yang memberi ruang pada keputusan sulit, cepat, dan bertanggung jawab.

    Buku kedua ditulis Daniel Yergin, The Prize (1991). Sebuah kisah besar tentang minyak sebagai darah peradaban modern.

    Yergin menelusuri bagaimana minyak membentuk perang, perdamaian, kebangkitan bangsa, dan jatuhnya kekuasaan.

    Di balik sejarah panjang itu, terdapat satu benang merah yang konsisten: lonjakan produksi energi selalu lahir dari keputusan berani di tengah ketidakpastian.

    Produksi besar di Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Laut Utara tidak pernah terjadi karena kehati-hatian berlebihan.

    Ia terjadi karena negara dan korporasi berani bertaruh pada teknologi baru, wilayah baru, dan model bisnis baru, dengan kesadaran bahwa kegagalan adalah harga yang mungkin harus dibayar.

    Minyak bukan sekadar komoditas. Ia adalah instrumen kedaulatan.

    Negara yang mampu mengelola minyak dengan keberanian strategis akan mengendalikan masa depannya sendiri. Negara yang ragu akan menyerahkan kendali itu kepada pasar global dan geopolitik.

    Dalam konteks 1 juta barrel per day, The Prize memberi kedalaman historis yang menggetarkan. Kemandirian energi tidak pernah dicapai dengan rasa aman, melainkan dengan keberanian yang disokong legitimasi politik dan institusional.

    Tanpa itu, target energi akan selalu tinggal sebagai angka, bukan sejarah.

    Buku yang saya beri kata pengantar ini menunjukkan peran krusial M&A. Produksi PHE hari ini pun sebagian besar berasal dari akuisisi dan alih kelola.

    Untuk menutup selisih menuju 1M29, M&A agresif bukan pilihan tambahan. Ia adalah kebutuhan.

    Namun M&A di BUMN bukan transaksi biasa. Ia adalah pertemuan antara logika bisnis dan logika negara. Di sanalah banyak peluang tertahan.

    Bukan karena mustahil. Melainkan karena terlalu banyak pihak takut memikul tanggung jawab.

    Kotak Pandora yang sesungguhnya bukan cadangan atau teknologi. Ia adalah sistem kita sendiri.

    Jika jalur konvensional tidak cukup, kita harus memikirkan jalur lain. Berpikir di luar kebiasaan bukan berarti serampangan.

    Ia berarti merancang ulang cara kerja dan cara mengambil keputusan. Lebih cepat, namun tetap akuntabel. Lebih berani, namun berbasis data.
    Lebih agresif, namun bertanggung jawab.

    Buku ini menyampaikan pesan yang jernih. Masalah utama bukan ketiadaan sumber daya, melainkan ketiadaan enabler untuk memonetisasinya tepat waktu.

    Dalam mitologi Yunani, ketika kotak Pandora dibuka dan bencana keluar, satu hal tertinggal di dasar kotak. Harapan.

    Dalam kisah 1 juta barrel per day, harapan itu masih ada. Selama kita jujur pada data. Selama kita berani memperbaiki sistem.

    Saat bangsa menuntut 1 juta barrel per day di 2029, keberanian saja tak cukup. Kita perlu perlindungan hukum terbatas, rezim fiskal lincah, dan lorong perizinan cepat bagi proyek berisiko tinggi.

    Oleh karena itu, pembentukan Satgas Nasional percepatan proyek migas dengan kewenangan memutus izin strategis dalam 30 hari merupakan sebuah langkah yang ideal.

    Bangsa besar tidak dibangun oleh target yang mudah. Ia dibangun oleh kesediaan menghadapi hambatan, lalu mengubahnya menjadi jalan.

    Dan di situlah, kisah ini menemukan maknanya.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Skandal Dana Syariah Indonesia Gunakan Skema Ponzi Hingga Proyek Fiktif

    January 17, 2026

    Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak Dioperasikan Indonesia Air Transport

    January 17, 2026

    Visibility 8 Km, Sedikit Berawan

    January 17, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Scott Parker Pastikan Kesiapan Burnley Hadapi Liverpool

    Berita Olahraga January 17, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Inggris: Manajer Burnley, Scott Parker, memastikan kesiapan timnya menghadapi laga tandang kontra…

    Skandal Dana Syariah Indonesia Gunakan Skema Ponzi Hingga Proyek Fiktif

    January 17, 2026

    Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros Angkut 11 Orang, Ini Identitasnya : Okezone News

    January 17, 2026

    Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak Dioperasikan Indonesia Air Transport

    January 17, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Scott Parker Pastikan Kesiapan Burnley Hadapi Liverpool

    January 17, 2026

    Skandal Dana Syariah Indonesia Gunakan Skema Ponzi Hingga Proyek Fiktif

    January 17, 2026

    Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros Angkut 11 Orang, Ini Identitasnya : Okezone News

    January 17, 2026

    Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak Dioperasikan Indonesia Air Transport

    January 17, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.