Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Ternyata InI Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    January 18, 2026

    SAR Gabungan Menuju Lokasi Dugaan Serpihan Pesawat ATR Ditemukan

    January 18, 2026

    Dani Ceballos Jelaskan Arti Hasil Kemenangan Real Madrid

    January 18, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Kripto, Ramai Dibicarakan, tapi Orang Awam Banyak Tidak Tahu

    Kripto, Ramai Dibicarakan, tapi Orang Awam Banyak Tidak Tahu

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 17, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Kali ini saya mau menjelaskan soal kripto. Banyak orang membicarakan kripto, tapi banyak juga orang awam yang tidak tahu. 


    Kripto itu makhluk digital yang lahir dari trauma global. Tahun 2008 dunia keuangan kolaps, bank-bank raksasa tumbang, dan orang-orang kecil mendadak sadar, uang mereka ternyata cuma janji yang bisa menguap. 

    Setahun kemudian, 2009, lahirlah Bitcoin, bukan dari rahim bank sentral, tapi dari sebuah dokumen sembilan halaman karya sosok misterius bernama Satoshi Nakamoto. 



    Ia menawarkan sistem uang tanpa bank, tanpa izin, dan tanpa pejabat. Sebuah ide yang terdengar utopis, tapi justru tumbuh subur di dunia yang lelah pada janji.

    Teknologi di baliknya bernama blockchain, sebuah buku besar digital yang dicatat bersama oleh ribuan komputer di seluruh dunia. 

    Data transaksi disimpan dalam blok, dihubungkan berantai, dan hampir mustahil diubah tanpa persetujuan jaringan. 

    Ini bukan klaim filosofis, tapi fakta teknis yang membuat Bitcoin bisa bertahan lebih dari 15 tahun tanpa pernah diretas di level protokol. 

    Ironisnya, sistem ini lebih konsisten dari banyak lembaga yang mengaku paling terpercaya.

    Dari satu koin bernama Bitcoin, dunia kripto meledak. Hingga 2025, tercatat lebih dari 20.000 aset kripto beredar secara global, meskipun hanya sebagian kecil yang benar-benar punya likuiditas dan fungsi nyata. 

    Kapitalisasi pasar kripto sempat menyentuh lebih dari 3 triliun dolar AS pada puncaknya di 2021, lalu rontok, lalu bangkit lagi, sebuah roller coaster finansial yang menelan banyak korban bermental lemah dan melahirkan banyak “pakar dadakan”.

    Negara-negara yang awalnya menertawakan kripto, kini justru sibuk mengaturnya. Uni Eropa mengesahkan MiCA (Markets in Crypto-Assets Regulation) pada 2023 sebagai kerangka hukum terpadu untuk seluruh negara anggotanya. 

    Amerika Serikat masih berdebat apakah kripto itu sekuritas atau komoditas, tapi pada saat yang sama IRS sudah memajakinya dan lembaga federal sudah menyita aset kripto bernilai miliaran dolar dari kasus kejahatan digital. 

    El Salvador bahkan melangkah lebih ekstrem dengan menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran sah sejak 2021, sebuah eksperimen nasional yang dipantau dunia sambil menahan napas.

    Indonesia pun tidak ketinggalan. Berdasarkan data Bappebti, jumlah investor kripto Indonesia sempat melampaui 18 juta orang pada 2023, melebihi jumlah investor pasar modal. 

    Negara mengambil posisi tegas, kripto bukan alat bayar, tapi aset digital yang boleh diperdagangkan. 

    Lewat UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), pengawasan kripto dialihkan ke OJK untuk memperkuat perlindungan konsumen. 

    Artinya jelas, negara tidak menutup mata, tapi juga tidak menyerahkan semuanya pada keberuntungan.

    Masalahnya, data yang sama juga menunjukkan sisi gelapnya. Mayoritas investor kripto ritel masuk dengan modal kecil, literasi rendah, dan ekspektasi tinggi. 

    Mereka tergoda oleh koin berharga recehan dengan janji “potensi 1000x”, padahal riset menunjukkan sebagian besar proyek kripto gagal bertahan lebih dari dua tahun. 

    Harga murah disangka peluang, padahal sering kali cuma tiket masuk ke ruang penyesalan.

    Soal keamanan, datanya lebih dingin lagi. Laporan industri mencatat kerugian akibat peretasan dan penipuan kripto secara global mencapai miliaran dolar AS setiap tahun. 

    Bukan karena blockchain jebol, tapi karena manusia lengah. Tautan palsu, dompet tiruan, janji imbal hasil tetap. Di dunia kripto, kesalahan pengguna bukan anomali, tapi statistik.

    Volatilitas pun bukan mitos. Bitcoin pernah turun lebih dari 70 persen dari puncaknya dalam satu siklus pasar, lalu bangkit lagi di siklus berikutnya. 

    Ini pola historis, bukan gosip. Karena itu, pendekatan bertahap dan jangka panjang bukan nasihat moral, tapi kesimpulan empiris. 

    Mereka yang bertahan bukan yang paling pintar membaca grafik, tapi yang paling disiplin mengelola emosi.

    Di balik semua kegaduhan itu, kripto tetap relevan secara struktural. Stablecoin berbasis dolar AS kini memproses transaksi bernilai triliunan dolar per tahun secara global, bahkan digunakan di negara-negara dengan inflasi tinggi sebagai alternatif sistem pembayaran. 

    Bank-bank besar yang dulu mencibir, kini justru meneliti dan mengadopsi teknologi blockchain untuk efisiensi internal. Dunia bergerak, meski sambil menggerutu.

    Kripto, pada akhirnya, bukan soal cepat kaya, tapi cepat paham. Ia memperlihatkan bagaimana teknologi, pasar, dan psikologi manusia saling bertabrakan. 

    Ia tidak menjanjikan keadilan, tapi menawarkan transparansi. Tidak menjamin untung, tapi memberi kesempatan belajar dengan harga yang kadang mahal. 

    Seperti semua inovasi besar, ia akan terus diperdebatkan, diatur, dicurigai, dan diam-diam dipakai.

    Masuk kripto tanpa data itu nekat. Masuk kripto tanpa nalar itu bunuh diri finansial. 

    Tapi masuk kripto dengan data, kesadaran risiko, dan sikap rendah hati, itu bukan sekadar investasi, itu latihan memahami masa depan.

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Agama Kristen di Afrika, dari Zaman Romawi, Kolonial, hingga Kini

    January 18, 2026

    Hodak Buka Peluang Rezaldi Kembali ke Persib

    January 17, 2026

    Kereta Bisa Melintas Lagi di Titik Banjir Pekalongan

    January 17, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Ternyata InI Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    Program Presiden January 18, 2026

    Diskon Listrik PLN (Foto: Okezone) JAKARTA – Cara klaim diskon listrik 50…

    SAR Gabungan Menuju Lokasi Dugaan Serpihan Pesawat ATR Ditemukan

    January 18, 2026

    Dani Ceballos Jelaskan Arti Hasil Kemenangan Real Madrid

    January 18, 2026

    Agama Kristen di Afrika, dari Zaman Romawi, Kolonial, hingga Kini

    January 18, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Ternyata InI Cara Klaim Diskon Listrik 50 Persen di Januari 2026 : Okezone Economy

    January 18, 2026

    SAR Gabungan Menuju Lokasi Dugaan Serpihan Pesawat ATR Ditemukan

    January 18, 2026

    Dani Ceballos Jelaskan Arti Hasil Kemenangan Real Madrid

    January 18, 2026

    Agama Kristen di Afrika, dari Zaman Romawi, Kolonial, hingga Kini

    January 18, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.