Kekristenan masuk Afrika Utara pada abad ke-1 M dengan pusat di Aleksandria dan Kartago (sekarang Tunisia) sesaat setelah Yesus Kristus meninggal dunia karena disalib –sesuai dengan kepercayaan agama Kristen. Afrika sering disebut sebagai salah satu pusat iman Kristen tertua, jauh sebelum agama ini masuk wilayah-wilayah lain di dunia.
Markus sang Penginjil diyakini memperkenalkan Kekristenan ke Aleksandria sekitar tahun 43 M dan menjadi uskup pertama di sana. Pada akhir abad ke-1 M, Aleksandria telah menjadi pusat teologi dan ilmu pengetahuan Kristen. Pada akhir abad ke-2, Kekristenan menyebar ke arah barat dari Mesir, melintasi pesisir Mediterania ke wilayah-wilayah seperti Kartago dan Libya.
Catatan Bible dalam Kisah Para Rasul menyebutkan adanya pembaptisan seorang pejabat istana Etiopia oleh rasul Filipus sesaat setelah kebangkitan Yesus. Meskipun ini disebut sebagai kontak paling awal, Etiopia secara resmi menjadikan agama Kristen sebagai agama negara pada abad ke-4 (sekitar tahun 330 M) di bawah Raja Ezana dari Aksum.
Di Afrika Utara yang dikuasai bangsa Romawi, agama Kristen awalnya dipeluk oleh kelas bawah sebagai bentuk perlawanan terhadap Kekaisaran Romawi yang pagan. Kekristenan menjadi alat bagi masyarakat yang tertindas untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kekuasaan Romawi.
Bagi banyak penduduk asli, memeluk Kristen adalah bentuk protes terhadap otoritas kekaisaran. Salah satu bentuk perlawanan tersebut adalah penolakan umat Kristen memberikan persembahan atau menyembah kaisar sebagai dewa. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan dan pengkhianatan politik terhadap legitimasi kekaisaran Romawi.
Munculnya gerakan Donatisme di Afrika Utara (khususnya di kalangan penduduk asli Berber) menjadi simbol persatuan dan “nasionalisme” pribumi melawan kontrol gereja dan negara yang didominasi oleh bangsa Romawi. Gerakan ini memicu pemberontakan sosial oleh kelompok Circumcelliones (buruh tani musiman) terhadap kelas atas yang telah berperilaku dan menjadi bangsa Romawi.
Keberanian para martir seperti Perpetua dan Felicitas di Kartago yang memilih mati daripada tunduk pada tradisi pagan Romawi memperkuat tekad dan menarik simpati banyak orang yang juga merasa terasing dari budaya dan kekuasaan Romawi. Para pemikir seperti Tertullianus menggunakan tulisannya untuk secara terbuka menantang dan merusak kredibilitas kultus pagan yang didukung negara, dan menyebutnya sebagai bentuk penyembahan yang salah dan tidak bermoral.
Agama Kristen tidak menjangkau wilayah sub-Sahara secara luas sampai abad ke-15 ketika para penjelajah dan misionaris Portugis datang. Pada zaman kolonial abad ke-19, penyebaran agama Kristen sangat terkait dengan misi bangsa Eropa di daerah jajahan. Bangsa Eropa memperkenalkan pendidikan dan pengobatan Barat yang kemudian dijadikan sebagai sarana pengabaran Bible.
Kolonialisme mempercepat penyebaran Kekristenan di Afrika selama abad ke-19 dan 20 dengan menanamkan iman Kristen ke dalam struktur administrasi pemerintahan. Para misionaris menyediakan layanan penting yang tidak diberikan oleh pemerintah kolonial. Ini memberikan insentif yang kuat bagi penduduk pribumi untuk pindah agama.
Sekolah-sekolah misionaris adalah penyedia pendidikan Barat. Melek huruf menjadi syarat untuk bisa membaca Bible dan untuk mendapatkan pekerjaan administrasi di pemerintahan kolonial. Ini menjadikan Kekristenan sebagai jalan menuju kemajuan sosial dan mobillitas vertikal.
Rumah sakit dan apotek yang dikelola misionaris Kristen memperkenalkan pengobatan Barat. Mereka menggunakan pengobatan dan kampanye kesehatan masyarakat (seperti pembagian sabun) sebagai cara “mencari jiwa” atau mengajak masyarakat masuk agama Kristen. Cara ini cukup berhasil.
Kekristenan dan kekuasaan kolonial dipandang oleh bangsa Eropa sebagai dua sisi dari koin yang sama. Para misionaris mengajarkan bahwa agama dan adat istiadat tradisional Afrika adalah pagan atau tidak beradab, lalu mengkampanyekan budaya Barat dan Kekristenan sebagai satu-satunya yang bisa diterima.
Tidak cuma itu. Iman Kristen juga digunakan sebagai kekuatan untuk menjinakkan bangsa Afrika, di mana ajaran Bible dipakai untuk menanamkan kepatuhan kepada penguasa asing lalu membenarkan hierarki kolonial. Pada saat yang sama, pemerintah kolonial memberikan perlindungan fisik dan bantuan keuangan kepada misionaris yang memasuki wilayah-wilayah terpencil dan tidak bersahabat.
Pemerintah kolonial memperkenalkan Kekristenan melalui sistem yang dikenal sebagai “Bible dan bajak” — yang menggantikan perdagangan budak dengan “perdagangan yang sah”. Doktrin misionaris ini dikembangkan di Inggris pada pertengahan abad ke-19 dalam menyebarkan agama Kristen di tanah jajahan Afrika.
Konsep ini digagas pertama kali oleh Sir Thomas Fowell Buxton, seorang politisi penghapus perbudakan (abolitionist) Inggris, yang tertuang dalam bukunya berjudul The African Slave Trade and Its Remedy (1840).
Buxton dan para pendukungnya menyadari bahwa untuk menghentikan perdagangan budak secara permanen, mereka harus menawarkan alternatif ekonomi kepada para pemimpin lokal Afrika. Bajak melambangkan pertanian dan perdagangan yang sah (seperti kapas, kopi, dan minyak sawit) yang akan menggantikan keuntungan dari menjual manusia.
Strategi ini didasarkan pada keyakinan bahwa Kekristenan tidak akan berkembang di lingkungan yang kacau akibat peperangan dan perbudakan. Bible mewakili transformasi spiritual dan moral masyarakat, sementara bajak mewakili kemajuan materi, kerja keras, dan stabilitas ekonomi. Para misionaris percaya bahwa dengan mengajarkan metode pertanian modern dan perdagangan, mereka menciptakan masyarakat yang stabil dan beradab yang lebih siap untuk menerima pesan-pesan Bible.
Dengan memperkenalkan pertanian, misi-misi Kristen berharap dapat membangun komunitas yang mandiri secara finansial. Umat Kristen Afrika diharapkan dapat mendanai gereja dan sekolah mereka sendiri melalui hasil bumi sehingga tidak terus-menerus bergantung pada dana dari Eropa.
Salah satu penerapan paling terkenal dari strategi ini adalah Ekspedisi Niger tahun 1841. Meskipun ekspedisi ini gagal karena penyakit malaria, filosofinya tetap hidup melalui tokoh-tokoh seperti Samuel Ajayi Crowther, uskup kulit hitam pertama di Nigeria. Crowther percaya bahwa kemajuan Afrika harus melibatkan pengembangan industri lokal dan pendidikan praktis di samping pengabaran Bible.
Namun begitu, meskipun dibawa oleh penjajah Eropa, Kekristenan bukanlah sekadar pemaksaan pasif kepada penduduk lokal. Banyak orang Afrika kemudian menerima iman Kristen tetapi menerjemahkannya ke dalam konteks budaya setempat. Mereka menggunakan prinsip-prinsip Kristen tentang keadilan dan pembebasan untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Meskipun agama Kristen menjadi agama dominan di Afrika, banyak pemeluknya mempertahankan sinkretisme yang mencampurkan kepercayaan leluhur tradisional dengan praktik Kristiani.
Kini di banyak negara Afrika, pemimpin gereja memiliki pengaruh politik yang setara atau bahkan melebihi pejabat pemerintah. Gereja-gereja besar, terutama gereja Pentakosta di Nigeria, Kenya, dan Ghana menjadi blok pemilih yang masif. Politisi sering mencari restu dari para pendeta terkenal sebelum mencalonkan diri.
Gerakan Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel) mendominasi daerah perkotaan. Di tengah tantangan ekonomi, ajaran bahwa iman akan mendatangkan kekayaan materi dan kesehatan fisik sangat menarik bagi jutaan orang. Lalu muncul gerakan tandingan dari kalangan akademisi dan pemimpin gereja tradisional yang mengkritik eksploitasi jemaat oleh pemimpin gereja yang sangat kaya.
Pada tahun 2060 diperkirakan lebih dari 40 persen umat Kristen dunia akan berada di Afrika sub-Sahara. Etiopia menjadi negara berpenduduk Kristen terbesar dengan 77,5 juta penganut, disusul oleh Nigeria dengan 74,4 juta penganut.
Katolik tersebar luas di Afrika Tengah dan Barat, sementara Kristen Protestan tersebar di Afrika Selatan dan Timur. Kristen Ortodoks tersebar terutama di Tanduk Afrika, dengan Gereja Ortodoks Tewahedo Etiopia dan Gereja Ortodoks Koptik di Mesir sebagai salah satu komunitas Kristen tertua di dunia. Gerakan Pentakosta dan Karismatik tercatat paling cepat berkembang, kini mewakili lebih dari sepertiga total populasi Kristen di Afrika.
Hubungan dengan Islam tetap menjadi hal krusial. Di negara-negara seperti Nigeria, Pantai Gading, dan Chad, terdapat ketegangan di wilayah perbatasan antara wilayah utara yang mayoritas Muslim dan wilayah selatan yang mayoritas Kristen. Meskipun ada konflik, di tingkat akar rumput tetap banyak upaya dialog antar-agama dilakukan untuk menjaga stabilitas sosial.
Tantangan tetap ada. Kaum muda di kota-kota besar mulai menunjukkan tanda-tanda terpengaruh gaya hidup sekuler. Generasi Z mempertanyakan doktrin-doktrin Kristen tertentu dan mencari ajaran yang dianggap lebih relevan dengan dunia masa kini.
Kekristenan di Afrika sekarang telah menjadi penggerak utama ekonomi, sosial, dan budaya. Kekristenan adalah identitas yang penting bagi sebagian besar penduduk.
Buni Yani
Peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara

