Aviasi dan pariwisata nasional diyakini memiliki potensi besar sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. (Foto: Okezone.com/AP)
JAKARTA – Pengembangan sektor aviasi dan pariwisata nasional diyakini memiliki potensi besar sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang diproyeksikan meningkat hingga 6% pada 2029.
Berbagai inisiatif strategis di sektor ini, mulai dari transformasi bandara dan peningkatan konektivitas udara, pengembangan destinasi budaya dan edukasi, hingga pembangunan fasilitas pariwisata kesehatan dan kawasan wisata unggulan, terus digarap untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat daya saing pariwisata nasional.
Selain pengembangan infrastruktur, sektor pariwisata juga diarahkan pada peningkatan kualitas pengalaman wisatawan melalui integrasi atraksi, aksesibilitas, dan amenitas yang saling mendukung, sehingga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal.
“Transformasi bisnis yang dilakukan selama empat tahun terakhir telah menjadi fondasi yang kokoh. Ke depan dalam melanjutkan transformasi ini, dengan tetap adaptif untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan yang sangat cepat, seperti yang terjadi pada masa saat ini. Kami berharap seluruh prakarsa InJourney, dengan dukungan penuh para pemangku kepentingan, mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” kata Direktur Utama InJourney, Maya Watono, Selasa (20/1/2026).
Di sisi pariwisata ditekenakna bahwa pengembangan sektor ini tidak cukup hanya dari sisi infrastruktur, tetapi harus menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat.
“Program pembangunan yang baik harus memastikan keterlibatan dan kesiapan sumber daya manusia agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan,” ujar Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman.
Fokus Keberlanjutan
Keberlanjutan menjadi kerangka utama dalam pengembangan sektor aviasi dan pariwisata. Konsep ini mencakup keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial. Strategi keberlanjutan dilakukan melalui dua pilar utama: lingkungan dan sosial-ekonomi.
Pada aspek lingkungan, fokus diberikan pada pengelolaan limbah, efisiensi penggunaan air, perlindungan keanekaragaman hayati, serta mitigasi perubahan iklim melalui program penghijauan dan pemanfaatan energi terbarukan. Misalnya, implementasi pembangkit listrik tenaga surya di bandara dan destinasi wisata mampu menghasilkan ribuan megawatt energi bersih per tahun sekaligus mengurangi emisi karbon signifikan.
Sementara itu, aspek sosial-ekonomi menekankan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui program kesehatan, pendidikan, pemberdayaan UMKM, dan perluasan lapangan kerja. Pendekatan ini memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara inklusif dan berkelanjutan.

