ILeague bersama PSSI beraudiensi dengan Kementerian HAM terkait isu rasisme dan bullying (Foto: I League)
ISU rasisme dan bullying kembali mencuat di sepakbola Indonesia khususnya pada Super League 2025-2026. Untuk itu, I.League mendampingi PSSI, menghadap ke Kementerian HAM RI.
Barisan Trobos Malut United Jabodetabek (Batoma-Jabodetabek) belum lama ini menggelar aksi massa sebagai bentuk solidaritas untuk Yakob Sayuri. Pasalnya, pemain asal Jayapura itu jadi sasaran tindak rasisme serta perundungan di media sosial.

Sebagai tindak lanjut, digelar pertemuan di Ruang Pengaduan Marsinah Kantor KemenHAM RI, Jakarta, Rabu 21 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, pihak kementerian meminta penjelasan serta keterangan PSSI mengenai upaya untuk menangani dan mencegah kasus tersebut.
1. Wadah Perdamaian dan Persaudaraan
Staf Khusus Bidang Pemenuhan HAM Menteri HAM, Yos Nggarang mengatakan, sepakbola seharusnya menjadi wadah perdamaian dan persaudaraan tanpa memandang suku, ras, maupun warna kulit. Jadi, ia sangat menyayangkan adanya isu rasisme beberapa waktu terakhir.
“Kami mengapresiasi komitmen PSSI & I.League dalam menjunjung nilai-nilai HAM dan berharap setiap pertandingan mencerminkan semangat tersebut. PSSI & I.League diharapkan berada di garis depan dalam melawan rasisme dan bullying,” ujar Yos dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (23/1/2026).
Pertemuan ini juga menjadi momentum bagi I.League sebagai operator kompetisi untuk menyampaikan berbagai langkah preventif dan edukatif yang telah dijalankan sejak awal musim kompetisi. Hal itu tentunya dalam pencegahan rasisme dan bullying.

