Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Indonesia Masters 2026: Alwi Farhan Jaga Peluang Tunggal Putra

    January 24, 2026

    Wall Street Anjlok Seiring Ambruknya Saham Teknologi

    January 24, 2026

    BMKG: OMC Tekan Intensitas Hujan Jabodetabek hingga 39,57% : Okezone News

    January 24, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Antara Amanat Konstitusi dan Realitas Geopolitik Global

    Antara Amanat Konstitusi dan Realitas Geopolitik Global

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 24, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Di satu sisi, Indonesia memiliki amanat konstitusional yang jelas untuk menentang penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina. 


    Di sisi lain, AS dikenal luas sebagai aktor internasional yang secara konsisten berpihak kepada Israel, baik secara politik, diplomatik, maupun militer.

    Situasi ini menempatkan Indonesia pada persimpangan strategis antara idealisme konstitusi dan realitas geopolitik global, terlebih di tengah wacana pengiriman pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke Gaza.



    Pro-Palestina dalam Forum Bentukan AS

    Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi. Prinsip ini menjadi fondasi moral dan politik luar negeri Indonesia sejak awal kemerdekaan, termasuk dalam isu Palestina. 

    Oleh karena itu, keterlibatan Indonesia dalam mekanisme perdamaian yang diinisiasi oleh AS — negara yang selama ini melindungi Israel di forum internasional — memunculkan paradoks yang tidak bisa diabaikan.

    Pertanyaannya bukan sekadar apakah Indonesia hadir, melainkan dalam posisi apa Indonesia hadir?

    Apakah sebagai penyeimbang dan penyampai suara keadilan atau justru terjebak dalam arsitektur perdamaian yang sejak awal timpang?

    Akses, Pengaruh, dan Diplomasi Aktif

    Dari sisi positif, kehadiran Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza membuka ruang akses diplomatik langsung terhadap proses pengambilan keputusan. 

    Dalam politik internasional, berada di dalam forum sering kali memberikan peluang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan dibandingkan berdiri di luar sebagai pengkritik.

    Indonesia berpotensi memainkan peran sebagai kekuatan moral (moral force) dan wakil kepentingan Global South, khususnya negara-negara Muslim. 

    Dengan rekam jejak panjang dalam misi penjaga perdamaian PBB, Indonesia juga memiliki modal kredibilitas untuk mendorong agenda perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, dan gencatan senjata yang berkelanjutan.

    Selain itu, keterlibatan ini dapat memberikan legitimasi internasional bagi rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke Gaza. 

    Di bawah payung mekanisme multilateral, pasukan Indonesia dapat beroperasi sebagai aktor netral dan profesional, bukan sebagai pihak konflik.

    Konsistensi Konstitusi dan Kepercayaan Global South

    Namun, implikasi negatifnya tidak kecil. Risiko terbesar adalah krisis konsistensi konstitusional. Indonesia dapat dipersepsikan ikut melegitimasi skema perdamaian yang tidak menyentuh akar persoalan, yakni pendudukan Israel atas wilayah Palestina. 

    Persepsi ini berbahaya, baik di dalam negeri maupun di mata dunia Islam. Sebab, selama ini Indonesia dipandang sebagai salah satu champion isu Palestina. 

    Jika langkah diplomasi ini tidak disertai sikap politik yang tegas, Indonesia berisiko kehilangan kepercayaan dari negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan komunitas Global South. 

    Dalam geopolitik, hilangnya kepercayaan sama berbahayanya dengan hilangnya kekuatan militer. Lebih jauh, rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Gaza juga menyimpan risiko keamanan serius. 

    Tanpa gencatan senjata yang nyata dan struktur komando yang benar-benar netral, pasukan Indonesia dapat terpapar ancaman langsung dan bahkan dipersepsikan sebagai bagian dari kepentingan kekuatan besar.

    Ujian Prinsip Bebas-Aktif di Era Baru

    Keterlibatan Indonesia dalam isu Gaza sejatinya merupakan ujian nyata prinsip politik luar negeri bebas-aktif. Bebas-aktif bukan berarti mengikuti semua inisiatif kekuatan besar, tetapi juga bukan menutup diri dari diplomasi global. 

    Bebas berarti merdeka dalam menentukan sikap, aktif berarti terlibat untuk memperjuangkan prinsip.

    Dalam konteks geopolitik global yang semakin terpolarisasi?”antara blok Barat dan Global South — Indonesia harus menjaga strategic autonomy. 

    Jika tidak, Indonesia berisiko terjebak dalam dinamika proxy diplomacy yang justru melemahkan posisi tawarnya di masa depan.

    Hadir Tanpa Kehilangan Prinsip

    Jika Indonesia tetap memilih bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, ada sejumlah syarat strategis yang tidak bisa ditawar. 

    Pertama, Indonesia harus secara terbuka dan tertulis menegaskan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina dan penolakan atas pendudukan Israel. 

    Kedua, mandat pasukan penjaga perdamaian harus murni kemanusiaan dan berada di bawah hukum internasional yang jelas.

    Ketiga, Indonesia perlu membangun koalisi dengan negara-negara Global South dan OKI agar tidak berdiri sendirian dalam forum yang didominasi kepentingan Barat. 

    Keempat, pemerintah harus transparan kepada publik domestik untuk menjaga legitimasi politik dan kepercayaan rakyat.

    Penutup

    Keputusan Indonesia terkait Dewan Perdamaian Gaza bukanlah pilihan sederhana antara hadir atau menolak. Ini adalah soal bagaimana hadir tanpa kehilangan jati diri. 

    Jika Indonesia mampu menjaga konsistensi konstitusi, melindungi pasukannya, dan tetap menjadi suara keadilan bagi Palestina, maka langkah ini dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan moral dan strategis di tingkat global.

    Namun jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan kredibilitas geopolitik yang telah dibangun selama puluhan tahun. 

    Di Gaza, yang dipertaruhkan bukan hanya perdamaian, tetapi juga integritas politik luar negeri Indonesia.

    Selamat Ginting
    Pengamat Politik dan Pertahanan Keamanan dari Universitas Nasional (Unas)





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Wall Street Anjlok Seiring Ambruknya Saham Teknologi

    January 24, 2026

    Kemendag Tuntaskan Seluruh Izin Impor Daging Sapi 2026

    January 24, 2026

    Resmi, PT Varia Intra Finance Dilarang Beroperasi

    January 24, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Indonesia Masters 2026: Alwi Farhan Jaga Peluang Tunggal Putra

    Berita Olahraga January 24, 2026

    Ligaolahraga.com -Jakarta – Pebulutangkis tunggal putra peringkat 18 dunia, Alwi Farhan berhasil meraih tiket ke…

    Wall Street Anjlok Seiring Ambruknya Saham Teknologi

    January 24, 2026

    BMKG: OMC Tekan Intensitas Hujan Jabodetabek hingga 39,57% : Okezone News

    January 24, 2026

    PSG Menang Tipis atas Auxerre, Begini Kata Luis Enrique

    January 24, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Indonesia Masters 2026: Alwi Farhan Jaga Peluang Tunggal Putra

    January 24, 2026

    Wall Street Anjlok Seiring Ambruknya Saham Teknologi

    January 24, 2026

    BMKG: OMC Tekan Intensitas Hujan Jabodetabek hingga 39,57% : Okezone News

    January 24, 2026

    PSG Menang Tipis atas Auxerre, Begini Kata Luis Enrique

    January 24, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.