Berita Tinju: Nama Oleksandr Usyk dan Evander Holyfield sering ditempatkan dalam satu kalimat ketika membahas petinju hebat yang sukses menaklukkan dua divisi berbeda. Keduanya sama sama memulai dominasi dari kelas cruiser sebelum menjelma menjadi raja di kelas berat, sebuah jalur yang hanya bisa ditempuh oleh petinju dengan kualitas istimewa.
Di kelas cruiser, Usyk membuktikan dirinya sebagai yang terbaik pada eranya. Ia meraih gelar juara dunia tak terbantahkan lewat kemenangan atas petinju elite seperti Mairis Briedis dan Murat Gassiev. Pencapaian tersebut menegaskan statusnya sebagai petinju dengan teknik tinggi, mobilitas luar biasa, dan disiplin taktik yang konsisten sepanjang laga.
Evander Holyfield juga meninggalkan jejak kuat di kelas yang sama. Ia dua kali menaklukkan Dwight Muhammad Qawi, salah satu nama besar pada masanya, sebelum merebut gelar dunia ketiganya dengan mengalahkan Carlos De Leon pada 1988. Namun warisan terbesar Holyfield justru terukir di kelas berat, lewat trilogi legendaris melawan Riddick Bowe serta kemenangan mengejutkan atas Mike Tyson yang menjadi bagian penting sejarah tinju dunia.
Oleksandr Usyk pun menorehkan kisah serupa di era modern. Ia menundukkan nama nama besar kelas berat seperti Anthony Joshua, Daniel Dubois, hingga dua kali mengalahkan Tyson Fury. Yang paling menonjol dari performa petinju asal Ukraina itu adalah konsistensinya sepanjang 12 ronde. Alih alih menurun, Usyk justru kerap terlihat semakin kuat memasuki ronde ronde akhir.
Faktor inilah yang disoroti mantan juara dunia kelas berat Shannon Briggs. Dalam pandangannya, tinju modern sangat menuntut kondisi fisik prima, dan Usyk dinilai sebagai contoh sempurna petinju dengan stamina di atas rata rata.
“Usyk itu berbeda. Petinju sekarang melepaskan lebih banyak pukulan, dan tinju modern sangat bergantung pada kondisi fisik,” ujar Briggs.
“Dulu mungkin lebih menonjolkan teknik, sekarang tekanan dan daya tahan jadi kunci. Kamu bisa bagus enam atau tujuh ronde, tapi jika tidak kuat menahan tekanan, semuanya runtuh.”
Briggs juga menambahkan bahwa Usyk mampu mempertahankan intensitas hingga ronde terakhir. Menurutnya, “Di ronde ke dua belas, Usyk masih memukul seperti ronde pertama, dan hampir tidak ada petinju lain dalam sejarah yang bisa melakukan itu.”
Meski demikian, Briggs mengisyaratkan bahwa jika duel tersebut murni dinilai dari kemampuan teknik, Evander Holyfield di masa emasnya tetap memiliki keunggulan tersendiri.
Artikel Tag: Evander Holyfield, oleksandr usyk
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/tinju/holyfield-bisa-kewalahan-ini-alasan-oleksandr-usyk-dinilai-lebih-unggul

