Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Tricia McLaughlin, menyatakan petugas melepaskan tembakan defensif setelah seorang pria bersenjata mendekati mereka dan melawan secara keras saat hendak dilucuti.
Namun, rekaman video warga yang beredar luas justru memperlihatkan Pretti memegang telepon genggam tanpa terlihat senjata.
Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara menyebut polisi meyakini Pretti adalah pemilik senjata yang sah dan memiliki izin membawa senjata.
Keluarga korban menggambarkan Pretti sebagai perawat ICU di rumah sakit veteran (VA) yang dikenal aktif menentang kebijakan pengetatan imigrasi Presiden Donald Trump.
Mereka menegaskan bahwa Pretti memegang ponsel, sementara tangan kirinya terangkat saat berusaha melindungi seorang perempuan yang didorong petugas imigrasi.
“Kami patah hati, tetapi juga sangat marah. Kebohongan menjijikkan yang disampaikan pemerintah tentang putra kami tidak dapat diterima,” kata keluarga, seperti dikutip dari Associated Press.
Penembakan terjadi di kawasan yang sebelumnya sudah memanas akibat kasus penembakan fatal lain oleh petugas imigrasi awal Januari lalu.
Ratusan warga mendatangi lokasi kejadian dan berhadapan langsung dengan petugas federal. Aparat merespons dengan penggunaan tongkat dan granat kejut, sementara Garda Nasional Minnesota dikerahkan atas perintah Gubernur Tim Walz untuk mengamankan lokasi dan sebuah gedung federal yang menjadi pusat aksi protes.
Di tengah suhu ekstrem minus enam derajat Celsius, ratusan warga tetap berkumpul di sekitar lokasi kejadian untuk menggelar aksi damai dan doa bersama.
Sejumlah poster bertuliskan “Justice for Alex Pretti” terlihat di antara kerumunan, sementara warga menyalakan lilin dan menyuarakan tuntutan keadilan.
Presiden Donald Trump menanggapi insiden penembakan tersebut melalui media sosial dengan mengkritik Gubernur Walz dan Wali Kota Minneapolis.
Ia mempertanyakan keberadaan polisi lokal dan menuduh pimpinan daerah dari Partai Demokrat telah menghasut pemberontakan melalui retorika mereka.
Gubernur Tim Walz menyatakan negara bagian Minnesota akan memimpin penyelidikan karena tidak percaya terhadap penanganan otoritas federal.
Kepala Biro Investigasi Kriminal Minnesota, Drew Evans, mengungkapkan petugas federal sempat menghalangi penyidik negara bagian meski surat perintah pengadilan telah diperoleh.

