Tangerang Selatan, CNN Indonesia —
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara bersyarat bagi sekolah jenjang SD dan SMP, baik negeri maupun swasta imbas potensi cuaca ekstrem.
Sebelumnya ada peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga 28 Januari 2026.
Kepala Dindikbud Tangsel Deden Deni mengatakan PJJ tidak diterapkan secara menyeluruh, melainkan hanya pada satuan pendidikan yang terdampak langsung seperti sekolah yang terendam banjir atau memiliki akses terganggu akibat genangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Penerapannya menyesuaikan kondisi di lapangan. Jika sekolah terdampak banjir atau aksesnya terhambat, PJJ bisa diberlakukan. Jika tidak terdampak, pembelajaran tatap muka tetap berjalan normal,” kata Deden, Senin (26/1).
Selain faktor banjir, PJJ juga dapat diterapkan apabila terdapat kekhawatiran dari orang tua terkait keselamatan peserta didik akibat kondisi cuaca ekstrem.
Deden menyebut sejumlah wilayah di Tangsel yang selama ini rawan banjir antara lain Kecamatan Pamulang, Pondok Aren, dan Ciputat. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi dari sekolah SD maupun SMP di tujuh kecamatan yang telah menerapkan PJJ.
“Sejauh ini belum ada sekolah yang melaporkan pelaksanaan PJJ. Mudah-mudahan cuaca mendukung sehingga pembelajaran tetap berjalan normal,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan PJJ mulai efektif diberlakukan sejak Jumat (24/1) dan akan disesuaikan dengan perkembangan cuaca serta prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Deden menegaskan tidak ada sanksi bagi sekolah yang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka selama tidak terdampak banjir dan kondisi dinilai aman.
“Intinya menyesuaikan situasi cuaca dan kondisi alam. Jika hujan deras dan tidak memungkinkan, PJJ bisa diberlakukan,” katanya.
(arl/kid)
[Gambas:Video CNN]

