
Jakarta, CNN Indonesia —
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menanggapi dugaan kerusakan lingkungan dan pelanggaran tata ruang di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang diduga menjadi pemicu longsor di Dusun Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat akhir pekan lalu.
Wagub Jabar Erwan Setiawan mengatakan Pemprov Jabar telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki seluruh perizinan bangunan di kawasan tersebut.
“Kami juga langsung membentuk tim untuk menginvestigasi perizinan, perizinan yang ada di kawasan Bandung Utara, di antaranya Bandung Barat. Dan sekitaran Lembang terutama, kita akan cek perizinannya dan juga peruntukannya,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan dalam wawancara dengan CNNIndonesiaTV, Senin (26/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau memang tidak sesuai, kita akan segera tindak, kita bongkar,” sambungnya.
Erwan menegaskan langkah investigasi ini diambil untuk memverifikasi temuan di lapangan terkait alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan.
Pihaknya pun berjanji akan mengambil tindakan tegas jika ditemukan pelanggaran yang berkontribusi pada bencana alam tersebut.
“Kita akan tindak tegas. Kemarin juga Pak Wapres memerintahkan tindak tegas siapapun juga yang melanggar tanpa pandang bulu. Kami tidak akan melihat siapa di belakangnya, kalau memang melanggar kita akan langsung sikat habis,” ujar Erwan.
Erwan menambahkan investigasi tidak hanya menyasar perizinan, tetapi juga upaya pemulihan ekosistem.
Pemprov Jabar berencana melakukan reboisasi dengan menanam pohon-pohon keras di kawasan hutan dan area lembah.
“Dan kita akan segera tanami pohon-pohon keras sebagai reboisasi ya,reboisasi kawasan hutan ataupun daerah-daerah lembah di daerah Bandung Utara, khususnya di Kabupaten Bandung Barat ini,” ujar Erwan.
Mengutip dari Antara, Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan tragedi gerakan tanah yang menimbun 30 hektare lahan di Desa Pasirlangu itu bukan sekadar bencana hidrometeorologi biasa, tapi ada kombinasi geologi purba dan kejenuhan air tanah.
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan berdasarkan analisis ada kombinasi fatal antara struktur geologi purba yang rapuh dan kejenuhan air tanah yang memicu kegagalan lereng di kawasan cukup padat penduduk tersebut.
“Karakteristik tanah di lokasi kejadian, sebuah bom waktu geologis yang akhirnya meledak,” kata Lana di Bandung, Senin ini.
Berdasarkan analisis data sekunder dan deskwork terkini, Lana menjelaskan lokasi bencana yang berada di koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694° itu berdiri di atas satuan batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).
“Satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat,” ujar dia.
Pelapukan lanjut pada batuan vulkanik ini, menurunkan kuat geser tanah secara drastis. Situasi diperparah oleh keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan berarah barat laut-tenggara.
Celah-celah mikroskopis ini menjadi jalan tol bagi air hujan untuk menyusup jauh ke dalam tanah, menciptakan bidang-bidang lemah yang siap menggelincirkan jutaan ton material tanah kapan saja.
Faktor pemicu utama yang tak terelakkan adalah curah hujan tinggi. Infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah pelapukan menyebabkan peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) yang signifikan.
Ketika tekanan air ini meningkat, daya ikat (kohesi) tanah melemah. Pada saat gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, terjadi pergerakan massa tanah dan batuan mengikuti bidang gelincir yang berkembang pada zona lemah.
Hal ini, menjelaskan mekanisme teknis mengapa longsoran mencakup luasan yang begitu besar.
Sementara itu, per pukul 18.30 WIB pada Senin malam ini, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 38 jenazah korban longsor di Kecamatan Cisarua.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian mengatakan alam operasi pencarian hari ini telah ditemukan 13 jenazah hingga pukul 18.30 WIB.
“Jumlah korban yang berhasil dievakuasi hari ini sebanyak sembilan jenazah hingga 18.30 WIB, sehingga total korban yang diserahkan berjumlah 38 sejak pertama kali operasi SAR dilaksanakan,” kata Ade di Bandung, Senin seperti dikutip dari Antara.
Pihaknya akan kembali melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban longsor Cisarua dengan mengerahkan personel gabungan serta 12 alat berat pada esok hari di sejumlah titik terdampak.
“Tadi kita sudah mendapatkan tiga bantuan alat berat, sehingga untuk pencarian selanjutnya kita dapat mengerahkan 12 unit alat berat,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Jabar Kombes Pol. La Ode Aries El Fathar menyampaikan sebanyak 20 kantong jenazah telah berhasil diidentifikasi dan proses lainnya masih terus berlangsung oleh aparat kepolisian.
“Kami konfirmasi berdasarkan informasi terbaru yang saya terima, sebanyak 20 korban sudah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI dan diserahkan kepada keluarga masing-masing,” ucapnya.
Ia mengonfirmasi data awal jumlah pelapor korban hilang mencapai 108 orang, tetapi angka total korban hilang tersebut bersifat dinamis dan tidak pasti, sehingga akan terus diperbarui.
(kay/antara/kid)
[Gambas:Video CNN]

