Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    John McGinn Diprediksi Akan Absen Lama Dari Skuat Aston Villa

    January 26, 2026

    Bos Maktour Travel Pembagian Kuota Haji: Kami Tidak Tahu Apa-apa

    January 26, 2026

    Viral Sopir Truk Kawal Mobil Oleng di Tol Japek, Ini Tanggapan Kakorlantas : Okezone News

    January 26, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Reformasi Kejaksaan Berada di Titik Darurat Imbas Kinerja Jampidsus

    Reformasi Kejaksaan Berada di Titik Darurat Imbas Kinerja Jampidsus

    PewartaIDBy PewartaIDJanuary 26, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Sejumlah aktivis dan peneliti menilai pola penegakan hukum Kejagung saat ini cenderung populis, menyasar aktor lapis kedua, serta gagal menyentuh aktor utama, sehingga reformasi Kejaksaan disebut telah berada pada titik darurat.


    Kritik tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Penanganan Korupsi Ala Jampidsus dan Urgensi Reformasi Kejaksaan” yang diselenggarakan Koalisi Jurnalis Anti Korupsi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 26 Januari 2026.

    Perwakilan Perkumpulan Aktivis 98, Rona Fortuna HS menilai berbagai kasus besar seperti timah, Antam, dan migas yang mencuat di era Jampidsus tidak pernah tuntas secara substansial.



    Menurutnya, penanganan perkara hanya berhenti pada aktor “ring dua”, sementara pihak yang berada di lingkar kekuasaan utama nyaris tak tersentuh.

    “Mustahil bawahan bergerak tanpa sepengetahuan atasan. Tapi faktanya, ring satu selalu aman. Kasusnya diviralkan, lalu pelan-pelan hilang tanpa kejelasan,” kata Rona.

    Rona juga menyoroti lemahnya tata kelola aset sitaan negara yang disebut tidak tercatat secara transparan. Bahkan, kata dia, keterangan para tersangka sendiri menunjukkan ketidakjelasan pengelolaan aset hasil rampasan.

    Rona menegaskan kondisi tersebut menunjukkan reformasi Kejaksaan sudah tidak bisa ditunda, termasuk pergantian pimpinan.

    “Kalau tidak ada penyegaran, polanya akan terus berulang. Yang paling parah adalah praktik tukar-guling perkara antar lembaga penegak hukum,” tuturnya.

    Pandangan serupa disampaikan Direktur Institut Marhaenisme 27, Deodatus Sunda yang menilai problem Kejaksaan bukan sekadar soal figur, melainkan sistemik. Ia menyebut Kejaksaan sejak awal merupakan institusi politik karena berada di bawah eksekutif.

    “Yang kita lihat sekarang adalah populisme hukum dan pembegalan konstitusi yang tampak legal. Ini bukan hal baru, sudah terjadi sejak era Jokowi dan berlanjut sampai sekarang,” kata Deodatus.

    Deodatus bahkan mempertanyakan perbedaan substantif antara Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini. Ia juga menyinggung absennya penindakan terhadap aktor militer, baik aktif maupun purnawirawan, sebagai indikator ketidaksetaraan hukum.

    “Kejaksaan hari ini tampak mengikuti selera politik penguasa. Independensinya patut dipertanyakan. Karena itu, mengganti pimpinan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah reformasi menyeluruh,” tegasnya.

    Sementara itu, Yerikho Manurung dari Indonesia Millennials Centre menilai penanganan korupsi oleh Jampidsus belum menunjukkan ketegasan dan niat baik yang konsisten. Ia menyoroti pola penegakan hukum yang berhenti setelah perkara viral di ruang publik.

    “Masyarakat tidak pernah mendapatkan kejelasan bagaimana pemulihan aset negara dilakukan. Penegakan hukum hanya terlihat di permukaan, tidak menyentuh akar persoalan,” ujarnya.

    Yerikho juga menekankan minimnya transparansi Kejaksaan, terutama terkait aset sitaan sejak tahap penyelidikan hingga penyidikan. Menurutnya, persoalan utama di tubuh Kejaksaan adalah relasi kuasa yang membuka ruang intervensi politik dan kolaborasi tidak sehat.

    “Selama relasi kuasa ini tidak dibenahi, tarik-menarik perkara akan terus terjadi dan penegakan hukum akan selalu bermasalah,” tandasnya.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Bos Maktour Travel Pembagian Kuota Haji: Kami Tidak Tahu Apa-apa

    January 26, 2026

    Sespimti Polri Dikreg ke-35 Salurkan Bantuan Kemanusiaan Korban Longsor Cisarua

    January 26, 2026

    Ketika Nelayan Melawan Cuaca

    January 26, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    John McGinn Diprediksi Akan Absen Lama Dari Skuat Aston Villa

    Berita Olahraga January 26, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Sepak Bola : Pelatih kepala Aston Villa yaitu Unai Emery memprediksi jika John…

    Bos Maktour Travel Pembagian Kuota Haji: Kami Tidak Tahu Apa-apa

    January 26, 2026

    Viral Sopir Truk Kawal Mobil Oleng di Tol Japek, Ini Tanggapan Kakorlantas : Okezone News

    January 26, 2026

    Real Madrid Tanpa Dua Bek saat Melawan Benfica

    January 26, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    John McGinn Diprediksi Akan Absen Lama Dari Skuat Aston Villa

    January 26, 2026

    Bos Maktour Travel Pembagian Kuota Haji: Kami Tidak Tahu Apa-apa

    January 26, 2026

    Viral Sopir Truk Kawal Mobil Oleng di Tol Japek, Ini Tanggapan Kakorlantas : Okezone News

    January 26, 2026

    Real Madrid Tanpa Dua Bek saat Melawan Benfica

    January 26, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.