Menurut Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim), Nidya Listiyono, tantangan utama pers ke depan bukan lagi soal kebebasan semata, melainkan kemampuan media menyesuaikan diri dengan ekosistem digital yang cepat dan pola konsumsi informasi generasi muda.
“Kebebasan pers sudah cukup terjaga. Tantangan sekarang adalah bagaimana pers tetap relevan, bertanggung jawab, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, termasuk menghadapi karakter pembaca Gen Z,” ujar Nidya dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 27 Januari 2026.
JMSI mencermati, Gen Z punya kecenderungan menyukai informasi yang singkat, visual, langsung ke pokok persoalan, serta mudah diakses melalui platform digital. Kondisi ini menuntut media berinovasi tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalistik.
“Gen Z tidak lagi suka berita yang terlalu panjang dan bertele-tele. Tapi itu tidak berarti kualitas boleh turun. Justru tantangannya bagaimana menyajikan berita yang ringkas, cepat, namun tetap akurat dan faktual,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Nidya mengapresiasi langkah JMSI Kaltim yang telah lebih dulu memperkuat kapasitas wartawan melalui Retreat JMSI Kaltim pada 21-22 Januari 2025 di Samboja yang diikuti 25 wartawan lintas daerah dengan asupan materi yang sesuai di situasi saat ini, termasuk pembekalan sertifikasi dan penguatan etika jurnalistik.
Baginya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) wartawan menjadi kunci agar pers mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan preferensi audiens muda.
Maka dari itu, ia menegaskan HPN jangan hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi refleksi bagi insan pers untuk membaca perubahan zaman. Digitalisasi bukan ancaman, melainkan peluang bagi media untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kepercayaan publik.
“Sekarang media tidak hanya bersaing soal siapa paling cepat, tapi siapa yang paling dipercaya. Ini penting, terutama bagi Gen Z yang sangat kritis terhadap informasi,” pungkasnya.

