Alexander Volkanovski akhirnya pulang. Setelah penantian panjang selama 2.996 hari, petarung terbaik Australia itu akan kembali berlaga di Sydney, kota yang memiliki arti emosional besar dalam perjalanan kariernya di UFC.
Kepulangan ini bukan sekadar pertarungan gelar, melainkan momen simbolik bagi Volkanovski dan para penggemar yang telah mengikutinya sejak awal.
Terakhir kali Volkanovski bertarung di Sydney adalah pada UFC Fight Night 121 tahun 2017, sebuah ajang yang lebih dikenang karena kekacauan ketimbang kemegahan.
Banyak laga batal, insiden di luar oktagon, serta pertarungan-pertarungan yang berjalan hingga keputusan juri membuat event tersebut terasa melelahkan.
Namun di tengah semua itu, Volkanovski tampil gemilang dengan mendominasi Shane Young—sebuah penampilan yang kini terasa seperti prolog dari kisah besar yang akan menyusul.
Kini, delapan tahun kemudian, Volkanovski kembali bukan sebagai pendatang baru, melainkan sebagai ikon UFC dan mantan juara featherweight dua kali.
Bertarung di Qudos Bank Arena, hanya sepelemparan batu dari kampung halamannya di Wollongong, laga melawan Diego Lopes terasa berbeda.
Ini merupakan panggung rumahnya, di depan keluarga, sahabat, dan para pendukung setia yang telah menunggu terlalu lama.
Volkanovski mengakui perjalanan menuju laga ini tak mudah.
Pandemi COVID-19, jadwal UFC yang tak selalu berpihak, hingga kesempatan bertarung di Australia yang terus tertunda membuatnya berkali-kali harus menahan harapan.
Kekalahan dari Islam Makhachev di Perth pada 2023 masih membekas, tetapi justru memperkuat hasratnya untuk memberikan penampilan spesial di Sydney.
Secara legacy, laga melawan Lopes mungkin tak menawarkan banyak keuntungan.
Banyak pihak menilai laga ulang ini berisiko tinggi dengan imbalan kecil. Namun bagi Volkanovski, ini soal pembuktian dan hadiah bagi para penggemar.
Ia percaya kemenangan dominan atas Lopes—petarung enam tahun lebih muda—akan menjadi pengingat bahwa dirinya belum habis.
Yang menarik, Volkanovski mengisyaratkan perubahan pendekatan. Dikenal sebagai petarung strategis dan sangat terukur, kali ini ia ingin bertarung lebih agresif.
“Saya merasa bisa melindas mereka,” ujarnya dengan keyakinan.
Ia tak ingin lagi sekadar mengontrol tempo, tetapi menekan sejak awal dan menunjukkan kekuatan penuh.
Di usia 37 tahun, Volkanovski justru menikmati narasi bahwa dirinya berada di ujung karier. Tekanan itu ia sambut dengan senyum.
Baginya, usia hanyalah angka, dan oktagon tetap menjadi tempat ia melakukan hal-hal luar biasa.
Jika kalah, warisannya tetap utuh. Namun, jika ia menang dan mengangkat sabuk juara di Sydney, setelah delapan tahun penantian, momen itu akan menjadi salah satu bab paling emosional dalam sejarah UFC Australia—dan penutup lingkaran yang sempurna bagi Alexander Volkanovski.
Artikel Tag: Alexander Volkanovski, UFC, MMA
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/setelah-2996-hari-alexander-volkanovski-akhirnya-akan-bertarung-di-sydney

