Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Kejuaraan Beregu Asia 2026: Raymond/Joaquin Akui Banyak Salah Vs Thailand

    February 7, 2026

    Persatuan Ulama dan Umara Kunci Bangsa Makmur

    February 7, 2026

    Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI, Prabowo: Istimewa! : Okezone News

    February 7, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

    Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 7, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Fenomena menunggu waktu berbuka puasa ini telah menjadi tradisi nasional yang melibatkan aktivitas sosial, kuliner, hingga rekreasi.

    Namun, di balik popularitasnya, masih terdapat kesalahpahaman umum mengenai asal-usul istilah ini.

    Penelusuran historis dan linguistik menunjukkan bahwa ngabuburit memiliki akar kuat dari budaya Sunda, bukan merupakan serapan dari bahasa Arab atau Melayu.

    Tinjauan Etimologis: Kearifan Lokal Sunda

    Secara kebahasaan, “ngabuburit” berasal dari morfologi bahasa Sunda. Istilah ini merupakan bentuk kata kerja yang terbentuk dari kata dasar burit, yang berarti ‘sore hari’ atau waktu menjelang matahari terbenam.

    Kata dasar tersebut mendapatkan awalan nga-, yang dalam tata bahasa Sunda berfungsi menunjukkan sebuah tindakan atau aktivitas.

    Oleh karena itu, secara harfiah, ngabuburit didefinisikan sebagai kegiatan ‘menghabiskan waktu di sore hari’.

    Secara spesifik, istilah ini merujuk pada aktivitas mengisi jeda waktu antara selesainya kegiatan siang hari dan datangnya waktu berbuka puasa (maghrib).

    Penggunaan istilah ini mencerminkan kesadaran masyarakat Sunda terdahulu dalam mengelola waktu puasa secara produktif.

    Sejarah dan Fungsi Sosial Awal

    Historisitas ngabuburit tidak dapat dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam dan tradisi lisan di Nusantara, khususnya di Jawa Barat.

    Pada masa pra-modern, terutama di lingkungan pedesaan, waktu menunggu berbuka sering kali terasa berat bagi anak-anak dan remaja yang tengah belajar berpuasa.

    Sebagai respons sosial, masyarakat menciptakan kegiatan-kegiatan komunal untuk mengalihkan rasa lapar dan haus. Bentuk awal ngabuburit sangat sederhana dan berorientasi pada nilai religius serta kebersamaan, antara lain:

    Pendidikan Agama: Berkumpul di surau atau masjid untuk mengaji dan mendengarkan ceramah.

    Permainan Rakyat: Anak-anak mengisi waktu dengan permainan tradisional di lapangan terbuka.

    Tradisi Lisan: Para orang tua menceritakan kisah-kisah moral atau keagamaan kepada generasi muda.

    Menurut para peneliti sosial, pada fase ini ngabuburit berfungsi sebagai mekanisme untuk mereduksi ketegangan fisik akibat puasa sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

    Transformasi di Era Modern dan Digital

    Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami pergeseran fungsi yang signifikan. Jika dahulu ngabuburit bersifat internal dan lokal, kini aktivitas tersebut bertransformasi menjadi fenomena yang lebih eksternal dan komersial.

    Aktivitas seperti berburu takjil (food hunting), berkendara keliling kota, hingga mengunjungi pusat perbelanjaan menjadi wajah baru dari tradisi ini.

    Teknologi digital turut memainkan peran vital dalam evolusi ngabuburit. Kehadiran media sosial mengubah aktivitas ini dari sekadar pengisi waktu luang menjadi konten visual.

    Motivasi masyarakat kini sering kali didorong oleh keinginan berbagi pengalaman atau mencari lokasi yang estetis untuk didokumentasikan.

    Studi sosiokultural menilai pergeseran ini bukan sebagai hilangnya tradisi, melainkan bentuk adaptasi. Ngabuburit telah berevolusi menjadi ruang rekreasi (leisure) yang menjembatani tradisi religius dengan gaya hidup urban kontemporer.

    Meskipun wujud kegiatannya telah berubah—dari surau ke pusat kuliner—esensi ngabuburit sebagai penanda kesabaran dan momen kebersamaan di bulan Ramadan tetap relevan hingga hari ini.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Persatuan Ulama dan Umara Kunci Bangsa Makmur

    February 7, 2026

    Wapres Gibran Hadir di Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun Yusril Ihza Mahendra

    February 7, 2026

    Prabowo Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI di Istiqlal

    February 7, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Kejuaraan Beregu Asia 2026: Raymond/Joaquin Akui Banyak Salah Vs Thailand

    Berita Olahraga February 7, 2026

    Ligaolahraga.com -Qingdao – Pasangan muda Merah Putih, Raymond Indra / Nikolaus Joaquin tak mampu menyumbang…

    Persatuan Ulama dan Umara Kunci Bangsa Makmur

    February 7, 2026

    Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI, Prabowo: Istimewa! : Okezone News

    February 7, 2026

    MUI Revitalisasi 500 Rumah Marbot dan Guru Ngaji Terdampak Bencana

    February 7, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Kejuaraan Beregu Asia 2026: Raymond/Joaquin Akui Banyak Salah Vs Thailand

    February 7, 2026

    Persatuan Ulama dan Umara Kunci Bangsa Makmur

    February 7, 2026

    Hadiri Pengukuhan Pengurus MUI, Prabowo: Istimewa! : Okezone News

    February 7, 2026

    MUI Revitalisasi 500 Rumah Marbot dan Guru Ngaji Terdampak Bencana

    February 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.