Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Breaking News! Gempa Dangkal M3,5 Guncang Bener Meriah Aceh, Pusatnya di Darat : Okezone News

    February 10, 2026

    Ribuan Ikan Diduga Keracunan di Kali Cisadane

    February 10, 2026

    Julian Nagelsmann Masuk Bursa Pelatih MU, Faktor Christopher Vivell?

    February 10, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Anies Diawasi Intel Melayu Bukan Pertama Kali, Tapi Selalu

    Anies Diawasi Intel Melayu Bukan Pertama Kali, Tapi Selalu

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 9, 2026No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Di forum itu hadir pula sebagai pembicara Andrinof A. Chaniago dan Agus Edy Santoso.  Seorang peserta yang hadir saya ingat bernama Andi Muhammad Asrun. Dia selalu nyinyir dan berbeda pendapat dengan saya dan kini aktif membela Joko Widodo alias Jokowi.


    Forum itu keras.
    Sejak judulnya, kritik terhadap Soeharto sudah terpampang tanpa tedeng aling-aling.

    Sebelum acara dimulai, Amir Husin Daulay berdiri dan berkata tegas:

    “Yang bukan mahasiswa, silakan keluar.”

    Tak ada yang bergerak.

    Ruangan tetap penuh.
    Tak satu pun bangkit.

    Amir berhenti sejenak. Ia menatap sekeliling. Lalu tanpa banyak bicara, ia turun dari meja moderator, berjalan ke arah pintu masuk aula, menghampiri dua orang berjaket.

    Dengan sopan, Amir meminta mereka keluar.

    Dua orang itu gugup.
    Tak bisa menunjukkan kartu mahasiswa.
    Tak bisa mengelak.

    Dari potongan tubuh, dari cara berdiri, dari cara memandang, semua jelas: mereka bukan peserta. Mereka datang untuk mengawasi.

    Intel.

    Kejadian semacam itu bukan sekali.
    Ia berulang.
    Dan terus berulang.

    Di dunia aktivisme, kehadiran intel adalah bagian dari keseharian.

    Hal serupa juga kerap dialami Anies Baswedan.

    Di depan rumahnya, sering ada orang yang “menunggu”.
    Bukan sebagai penjaga.
    Bukan sebagai tamu.
    Bukan orang yang kami kenal.

    Tugasnya sederhana: memotret siapa yang datang.

    Dalam kunjungan ke berbagai daerah, hal itu juga terjadi.
    Diikuti.
    Diamati.
    Difoto.
    Direkam.

    Puluhan bahkan ratusan kali terjadi. Jadi kalau dari petingginya mengatakan tidak bermaksud untuk mengawasi. Sudahlah. Makin bohong makin ngeselin.  

    Yang Anies Ajak foto bareng seperti sudah berkali-kali cuma nggak pernah disebarkan, kali ini ada orang yang memvideokan. 

    Anies adalah mantan aktivis kampus.
    Dan para aktivis punya naluri tajam terhadap perilaku intel.

    Ia tahu.

    Tetapi ia tidak bereaksi dengan marah.
    Tidak pula dengan paranoia.

    Ia justru mendekat.

    Ia ajak mereka foto bersama.

    Belakangan ada yang memvideokan momen itu. Videonya beredar. Banyak yang menganggap itu peristiwa baru.

    Padahal tidak.

    Itu sudah terjadi puluhan kali.

    Diikuti.
    Diintip.
    Diawasi.

    Anies tetap tenang.

    Ia tidak merasa terintimidasi.
    Ia tidak merasa terancam.

    Ia hadapi dengan senyum.

    Dulu, di masa mahasiswa, kami menyebut mereka:

    Intel Melayu.

    Menyamar sebagai mahasiswa.
    Duduk di sudut ruangan.
    Pura-pura mencatat.

    Tapi kadang, gagang pistol masih tampak dari balik jaket.

    Mereka belajar menyaru.
    Kami belajar membaca.

    Mereka belajar menyamar.
    Kami belajar membedakan.

    Dan dari pengalaman-pengalaman itulah kami paham:
    kekuasaan selalu ingin tahu,
    siapa yang berpikir,
    siapa yang kritis,
    siapa yang tak bisa dikendalikan.

    Tapi sejarah menunjukkan:
    yang diawasi belum tentu salah,
    yang mengawasi belum tentu benar.

    Dan para aktivis, sejak dulu,
    belajar hidup berdampingan dengan pengawasan.

    Tanpa kehilangan keberanian.
    Tanpa kehilangan akal.
    Tanpa kehilangan martabat.

    Geisz Chalifah
    Pegiat demokrasi





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Prabowo Paham Cara Menangani Kritik

    February 10, 2026

    Raja Charles Siap Dukung Penyelidikan Polisi soal Hubungan Andrew dan Epstein

    February 10, 2026

    Menhaj Luncurkan Program Beras Haji Nusantara

    February 10, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Breaking News! Gempa Dangkal M3,5 Guncang Bener Meriah Aceh, Pusatnya di Darat : Okezone News

    Program Presiden February 10, 2026

    Gempa Dangkal M3,5 Guncang Bener Meriah Aceh, Pusatnya di Darat…

    Ribuan Ikan Diduga Keracunan di Kali Cisadane

    February 10, 2026

    Julian Nagelsmann Masuk Bursa Pelatih MU, Faktor Christopher Vivell?

    February 10, 2026

    Prabowo Paham Cara Menangani Kritik

    February 10, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Breaking News! Gempa Dangkal M3,5 Guncang Bener Meriah Aceh, Pusatnya di Darat : Okezone News

    February 10, 2026

    Ribuan Ikan Diduga Keracunan di Kali Cisadane

    February 10, 2026

    Julian Nagelsmann Masuk Bursa Pelatih MU, Faktor Christopher Vivell?

    February 10, 2026

    Prabowo Paham Cara Menangani Kritik

    February 10, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.