Di forum itu hadir pula sebagai pembicara Andrinof A. Chaniago dan Agus Edy Santoso. Seorang peserta yang hadir saya ingat bernama Andi Muhammad Asrun. Dia selalu nyinyir dan berbeda pendapat dengan saya dan kini aktif membela Joko Widodo alias Jokowi.
Forum itu keras.
Sejak judulnya, kritik terhadap Soeharto sudah terpampang tanpa tedeng aling-aling.
Sebelum acara dimulai, Amir Husin Daulay berdiri dan berkata tegas:
“Yang bukan mahasiswa, silakan keluar.”
Tak ada yang bergerak.
Ruangan tetap penuh.
Tak satu pun bangkit.
Amir berhenti sejenak. Ia menatap sekeliling. Lalu tanpa banyak bicara, ia turun dari meja moderator, berjalan ke arah pintu masuk aula, menghampiri dua orang berjaket.
Dengan sopan, Amir meminta mereka keluar.
Dua orang itu gugup.
Tak bisa menunjukkan kartu mahasiswa.
Tak bisa mengelak.
Dari potongan tubuh, dari cara berdiri, dari cara memandang, semua jelas: mereka bukan peserta. Mereka datang untuk mengawasi.
Intel.
Kejadian semacam itu bukan sekali.
Ia berulang.
Dan terus berulang.
Di dunia aktivisme, kehadiran intel adalah bagian dari keseharian.
Hal serupa juga kerap dialami Anies Baswedan.
Di depan rumahnya, sering ada orang yang “menunggu”.
Bukan sebagai penjaga.
Bukan sebagai tamu.
Bukan orang yang kami kenal.
Tugasnya sederhana: memotret siapa yang datang.
Dalam kunjungan ke berbagai daerah, hal itu juga terjadi.
Diikuti.
Diamati.
Difoto.
Direkam.
Puluhan bahkan ratusan kali terjadi. Jadi kalau dari petingginya mengatakan tidak bermaksud untuk mengawasi. Sudahlah. Makin bohong makin ngeselin.
Yang Anies Ajak foto bareng seperti sudah berkali-kali cuma nggak pernah disebarkan, kali ini ada orang yang memvideokan.
Anies adalah mantan aktivis kampus.
Dan para aktivis punya naluri tajam terhadap perilaku intel.
Ia tahu.
Tetapi ia tidak bereaksi dengan marah.
Tidak pula dengan paranoia.
Ia justru mendekat.
Ia ajak mereka foto bersama.
Belakangan ada yang memvideokan momen itu. Videonya beredar. Banyak yang menganggap itu peristiwa baru.
Padahal tidak.
Itu sudah terjadi puluhan kali.
Diikuti.
Diintip.
Diawasi.
Anies tetap tenang.
Ia tidak merasa terintimidasi.
Ia tidak merasa terancam.
Ia hadapi dengan senyum.
Dulu, di masa mahasiswa, kami menyebut mereka:
Intel Melayu.
Menyamar sebagai mahasiswa.
Duduk di sudut ruangan.
Pura-pura mencatat.
Tapi kadang, gagang pistol masih tampak dari balik jaket.
Mereka belajar menyaru.
Kami belajar membaca.
Mereka belajar menyamar.
Kami belajar membedakan.
Dan dari pengalaman-pengalaman itulah kami paham:
kekuasaan selalu ingin tahu,
siapa yang berpikir,
siapa yang kritis,
siapa yang tak bisa dikendalikan.
Tapi sejarah menunjukkan:
yang diawasi belum tentu salah,
yang mengawasi belum tentu benar.
Dan para aktivis, sejak dulu,
belajar hidup berdampingan dengan pengawasan.
Tanpa kehilangan keberanian.
Tanpa kehilangan akal.
Tanpa kehilangan martabat.
Geisz Chalifah
Pegiat demokrasi

