Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Rafael Leao Berlatih Penuh, Pulisic dan Saelemaekers Masih Diragukan

    February 9, 2026

    Idrus Marham Bela Prabowo soal Pembangunan Gedung MUI

    February 9, 2026

    Jalan Berlubang karena Hujan Ditambal Sementara, Rano Karno: Perbaikan Permanen Tunggu Musim Kemarau : Okezone News

    February 9, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Clickbait Geopolitik

    Clickbait Geopolitik

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 9, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Paling menonjol tentu saja Donald Trump, maestro sirkus geopolitik yang paham betul satu rumus kuno era digital: perhatian adalah mata uang, dan siapa menguasainya bisa belanja apa saja,  termasuk kekacauan. Bahkan boleh jadi, keuntungan materi bukan mustahil ikut datang kemudian.


    Trump tidak menunggu peristiwa. Ia memproduksinya. Dunia belum sempat ngopi, ia sudah melempar isu. Misalnya, Greenland mau dibeli, tarif mau dinaikkan, Iran disentil, NATO digeser, migrasi diaduk. Isu-isu yang dilemparnya seolah tampak sungguhan. Pernyataan dibuat, utusan dikirim, kapal perang dikerahkan.

    Namun, kita bisa baca, isu-isu itu sering berumur pendek, seperti mie instan yang matang sebelum air mendidih sempurna. Tapi justru di situlah triknya. Isu tak perlu selesai, yang penting sempat viral. Seperti notifikasi ponsel yang berbunyi tanpa pesan penting, tapi tetap saja kita refleks membuka.



    Catherine De Vries, akademisi yang tampaknya lelah melihat Eropa seperti pemain figuran dalam drama Amerika,  menyebutnya dengan istilah yang sangat pas yakni geopolitical clickbait. Greenland, misalnya, adalah umpan yang sempurna. Letaknya strategis, namanya eksotis, pengetahuannya minim di kepala pemilih rata-rata.

    Isu pencaplokan Greenland begitu dramatis, cukup kabur untuk diperdebatkan, dan ampuh membuat para pemimpin Eropa berlarian seperti panitia dadakan yang lupa menyewa gedung. Apakah Trump sungguh ingin menguasainya? Itu soal nanti. Yang penting sekarang: semua mata tertuju ke Washington.

    Ini bukan improvisasi liar, melainkan kelanjutan dari filosofi lama yang pernah diucapkan Steve Bannon dengan bahasa yang kurang layak dibacakan di kelas kewargaan: membanjiri ruang publik dengan kekacauan.

    Ketika segalanya terasa darurat, tak ada lagi ruang berpikir strategis. Media mengejar semua, oposisi marah setiap jam, pemerintah lain sibuk menanggapi, dan agenda jangka panjang tergeletak seperti proposal bagus yang lupa dicetak.

    Dampaknya terasa nyata di Eropa. Ancaman Arktik bikin Skandinavia tegang, perang Ukraina membakar Eropa Timur, perang dagang bikin eksportir gelisah.

    Setiap isu menciptakan koalisi kecemasan yang berbeda. Yang tidak pernah lahir adalah kesatuan fokus. Eropa sibuk bereaksi, bukan merancang. Padahal sejarah mengajarkan, siapa yang hidup dari reaksi biasanya mati oleh kelelahan.

    Ironisnya, di balik segala kegaduhan, ada agenda yang cukup konsisten. Eropa tidak lagi diperlakukan sebagai mitra dalam tatanan berbasis aturan, melainkan sebagai pelanggan dalam toko transaksi.

    Siapa ideologinya sejalan, dapat diskon. Siapa beda arah, siap ditekan. Greenland dalam kerangka ini bukan sekadar pulau es, melainkan tuas simbolik: penanda siapa menentukan syarat main.

    Fenomena ini, tentu saja, bukan monopoli Amerika. Politik perhatian adalah virus global, dan Indonesia tidak kebal. Di negeri kita, isu bisa diciptakan pagi hari, diperdebatkan siang, dilawan sore, lalu ditinggalkan malamnya, diganti topik baru yang sama-sama “urgent”.

    Demokrasi berubah menjadi linimasa, kebijakan jadi trending topic, dan publik dipaksa hidup dalam mode scroll tanpa henti. Kita sibuk menanggapi, lupa merencanakan.

    Ada sebab yang sangat manusiawi, dan sekaligus sangat politis, mengapa politisi dunia gemar memainkan politik perhatian. Karena di era demokrasi yang hidup dari sorotan, eksistensi politik diukur bukan dari kedalaman kebijakan, melainkan dari durasi tampil di layar.

    Perhatian memberi keuntungan instan: dominasi agenda, pengalihan isu dari kegagalan substantif, konsolidasi basis pendukung yang merasa “pemimpinnya sedang beraksi”, serta posisi tawar dalam negosiasi.

    Namun ia juga membawa ongkos laten yang mahal: kelelahan publik, erosi kepercayaan, kebijakan yang dangkal, dan diplomasi yang berubah jadi sandiwara.

    Bagi politisi, ini seperti kredit cepat berbunga tinggi, yang manis di awal tapi mencekik di belakang.

    Bagi publik dan media, kesadarannya harus dimulai dari disiplin fokus: membedakan mana sinyal dan mana kebisingan, menolak mengikuti setiap provokasi emosional, menunda reaksi sebelum verifikasi, serta menuntut kesinambungan kebijakan alih-alih sensasi harian.

    Media perlu kembali ke kerja kurasi, bukan sekadar amplifikasi; publik perlu menguatkan literasi atensi, kemampuan memilih apa yang pantas diberi waktu dan energi.

    Dengan begitu, panggung tidak lagi dikuasai aktor yang paling ribut, melainkan gagasan yang paling relevan. Sebab permainan politik perhatian hanya menang jika kita ikut bertepuk tangan.

    Pelajaran terpenting dari semua ini bukan bahwa politik dunia makin kacau, melainkan bahwa perhatian telah menjadi medan tempur strategis. Perang tidak lagi dimenangkan oleh siapa paling kuat, tetapi oleh siapa paling berhasil menentukan apa yang layak kita pikirkan. Menang bukan soal bicara paling keras, melainkan memilih kapan harus diam.

    Mungkin sudah waktunya kita belajar satu kebijaksanaan sederhana yang sering kalah oleh notifikasi bahwa tidak semua yang ramai itu penting, dan tidak semua yang penting akan ramai.

    Dalam dunia yang terus berteriak, kemampuan mengabaikan bisa jadi bentuk kecerdasan politik tertinggi. Karena itu, perhatian yang kita berikan, atau kita tahan, itulah suara paling jujur dari kedaulatan berpikir kita sendiri.





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Idrus Marham Bela Prabowo soal Pembangunan Gedung MUI

    February 9, 2026

    Bos Mecimapro Divonis Lepas Kasus Penipuan Rp10 M Konser TWICE

    February 9, 2026

    Etnis Minang Paling Tidak Puas Kinerja Prabowo

    February 9, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Rafael Leao Berlatih Penuh, Pulisic dan Saelemaekers Masih Diragukan

    Berita Olahraga February 9, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Italia: Rafael Leao dilaporkan telah kembali berlatih penuh bersama skuad AC Milan,…

    Idrus Marham Bela Prabowo soal Pembangunan Gedung MUI

    February 9, 2026

    Jalan Berlubang karena Hujan Ditambal Sementara, Rano Karno: Perbaikan Permanen Tunggu Musim Kemarau : Okezone News

    February 9, 2026

    Dejan Tumbas Siap Buktikan Diri Bersama Persis Solo

    February 9, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Rafael Leao Berlatih Penuh, Pulisic dan Saelemaekers Masih Diragukan

    February 9, 2026

    Idrus Marham Bela Prabowo soal Pembangunan Gedung MUI

    February 9, 2026

    Jalan Berlubang karena Hujan Ditambal Sementara, Rano Karno: Perbaikan Permanen Tunggu Musim Kemarau : Okezone News

    February 9, 2026

    Dejan Tumbas Siap Buktikan Diri Bersama Persis Solo

    February 9, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.