Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Densus 88: Radikalisme dan Ekstremisme Masih Jadi Tantangan bagi Keamanan Indonesia! : Okezone News

    February 11, 2026

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Ilusi Swasembada Pangan Kementan

    Ilusi Swasembada Pangan Kementan

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 11, 2026No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Perhitungan produksi beras nasional tersebut didasarkan pada asumsi perhitungan rendemen konversi Gabah Kering Giling (GKG) menjadi beras sebesar 64,12 persen. Sebuah asumsi yang sebetulnya juga kurang representatif karena hanya didasarkan pada satu musim kemarau di bulan Agustus-September 2025. Apalagi dipengaruhi oleh obsesi untuk penyerapan gabah oleh Bulog yang menurunkan kualitas beras dan otomatis rendemen. 


    Kalau mau rasional, sebetulnya yang lebih mendekati kenyataan adalah hitungan dari USDA (United State Departement Of Agriculture) yang angkanya sebesar 57,69 persen. Data rendemen USDA ini juga menjadi lebih aman juga bagi kepentingan nasional agar kita tidak bias politik. 

    Jangan sampai obsesi politik untuk hanya sekedar tunjukkan kinerja namun ternyata membahayakan bagi kepentingan nasional. Menurut saya, Presiden juga mesti menurunkan tim intelijen khusus untuk mengecek ini secara independen. Angka angka yang over confident ini sepertinya sudah mendekati obsesif-dilutif dan politis. 



    Jangan sampai angka ini kelak menimbulkan gejolak sosial ketika kenyataanya kita justru mengalami defisit. Karena hitungan kami dengan pendekatan yang paling konservatif dengan menggunakan pendekatan basis konsumsi dari USDA dan produksi dari BPS saja masih defisit. 

    Fenomena “don’t count the tail” yang pernah terjadi di Ukraina mestinya jadi pelajaran. Di mana pemerintah optimis kebutuhan susu terpenuhi hanya dengan menghitung jumlah sapi, namun kenyataanya  ibu ibu rumah tangga memprotes kelangkaan susu. 

    Jangan sampai faktanya kita alami defisit pangan tapi data-data yang ditampilkan menutup kenyataan. Ilusi surplus beras ini sebetulnya berbahaya karena jika kenyataannya kita defisit maka juga akan dorong aktivitas impor beras ilegal. 

    Dalam konteks lebih luas, saya melihat program program yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian saat ini juga orientasinya shortcut, dan keberlanjutannya sangat diragukan. Rekayasa kelembagaan dan juga pembiayaan yang memungkinkan petani kita maju juga tidak terjadi. 

    Nasib petani kita selalu berada di sektor on farm yang tinggi resiko, dan bermargin rendah. Ini artinya dalam perspektif politik juga menjadi ancaman serius bagi kepentingan stabilitas politik nasional. 

    Sektor bisnis off farm-nya dan bahkan non farm-nya seperti pembiayaan di sektor pertanian tidak menunjukkan daya dukung ke petani. Semua masih dikuasai oleh mafia kartel. Mereka panen tapi tidak panen, terjebak para pengijon. 

    Sampai kiamat petani kita kalau pola kebijakan yang dilakukan seperti saat ini mereka akan tetap miskin. Informalisasi petani tanpa penguatan kelembagaan petani mendorong guremisasi alias penyempitan lahan dan degenerasi petani. Gambaran kondisi makro yang sesungguhnya terjadi dengan nasib petani ini juga mengancam program kedaulatan pangan Presiden Prabowo.

    Suroto
    Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)





    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    Pasar Jaya Gandakan Pasar Murah hingga 500 Kali

    February 11, 2026

    1.000 Siswa Yatim Piatu Pemegang KJP Ikuti Try Out Gratis

    February 11, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Densus 88: Radikalisme dan Ekstremisme Masih Jadi Tantangan bagi Keamanan Indonesia! : Okezone News

    Program Presiden February 11, 2026

    JAKARTA – Densus 88 Antiteror Polri menegaskan bahwa intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme masih menjadi tantangan…

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    BAM Tuntut BWF Pembagian Bisnis Penyelenggaraan Kompetisi Yang Lebih Adil

    February 11, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Densus 88: Radikalisme dan Ekstremisme Masih Jadi Tantangan bagi Keamanan Indonesia! : Okezone News

    February 11, 2026

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    BAM DPR Terima Audiensi Sengketa Lahan 39 Hektare Bendungan di Sulsel

    February 11, 2026

    BAM Tuntut BWF Pembagian Bisnis Penyelenggaraan Kompetisi Yang Lebih Adil

    February 11, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.