Data SIPSN KLHK mencatat, pada 2024 Indonesia menghasilkan 32,85 juta ton sampah per tahun, sebagian besar belum terkelola dengan baik. Bantar Gebang pun menjadi saksi nyata krisis lingkungan sekaligus sumber penghidupan bagi banyak keluarga.
Melihat kondisi tersebut, Bank Syariah Indonesia bersama BSI Maslahat menghadirkan Program Waste Management. Melalui program ini, warga diajak memandang sampah bukan lagi sebagai barang bekas, melainkan sebagai peluang. Masyarakat dibina membentuk Koperasi BSI Berkah dan dilatih mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai jual, seperti tote bag, mulai dari memilah, menyetrika, hingga menjahit.
Perubahan pun terasa. Wajah-wajah yang dulu lelah kini dipenuhi harapan.
“Seneng rasanya dapat kegiatan ini, lumayan buat ngurangin sampah di rumah saya, sama bisa jadi duit tambahan,” ujar Ibu Syariah (34), salah satu peserta pelatihan.
Program ini tidak hanya memberi keterampilan, tetapi juga membuka jalan menuju usaha berbasis UMKM. Warga mulai melihat peluang meningkatkan pendapatan tanpa harus menjual semua sampah ke pengepul.
“Akhirnya ada juga program pelatihan kaya gini juga, yang bisa jadi ide usaha jadi gausah dijual semua ke pengepul,” kata Ibu Syai (40).
Di balik bau menyengat dan tumpukan sampah, kini lahir karya dan semangat baru. Program Waste Management membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, harapan tetap bisa tumbuh, bahkan dari tempat yang selama ini dianggap tak bernilai.
BSI Maslahat pun menegaskan bahwa kebaikan kecil mampu memberi dampak besar, merajut masa depan dari sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai limbah.

