Hal tersebut menjadi salah satu inti pembicaraan dalam rangkaian peluncuran buku pada peringatan “100 Tahun Hari Lahir Almarhumah Ibu Rahmi Hatta” yang digelar di Kediaman Mohammad Hatta, Jalan Diponegoro Nomor 57, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 16 Februari.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan bahwa Rahmi Hatta dikenal sangat mencintai produk lokal dan merawatnya dengan baik.
“Dari cerita putri-putri beliau, Ibu Rahmi Hatta sangat mencintai produk lokal dan menjaganya dengan baik. Ini menjadi pesan penting bagi generasi penerus untuk tetap mencintai produk Indonesia,” ujar Arifah.
Tak hanya itu, Arifah menilai sosok Rahmi Hatta yang rendah hati dan luwes dalam mengurus keluarga serta mendampingi Bung Hatta dalam tugas kenegaraan dapat menjadi teladan bagi keluarga Indonesia saat ini.
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah rapuhnya komunikasi dalam keluarga, baik antara suami dan istri maupun antara orang tua dan anak.
“Kita sedang mengalami pola asuh keluarga yang rapuh. Komunikasi dalam keluarga semakin sulit, padahal keluarga adalah fondasi sebuah negara. Ini yang harus diperkuat,” tegasnya.
Sementara itu, putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, mengungkapkan bahwa ibunya merupakan pribadi yang humanis, humoris, serta memiliki semangat belajar yang tinggi sepanjang hidupnya.
Rahmi Hatta terus mengembangkan diri melalui membaca, menonton pertunjukan seni, belajar bahasa asing, hingga mengikuti perkembangan budaya.
“Ibu selalu ingin tahu dunia dan isinya. Beliau belajar sendiri, mendidik diri sendiri, dan kemudian menularkan semangat itu kepada orang lain,” ujar Meutia.
Lebih lanjut, Meutia menekankan pesan penting bagi perempuan Indonesia agar pemberdayaan perempuan, baik di sektor sosial maupun ekonomi, tetap berakar pada kecintaan terhadap Indonesia.
Salah satu bentuk nyatanya adalah penggunaan produk asli Indonesia, mulai dari batik, kain tradisional, hingga aksesori dari berbagai daerah sebagai wujud dukungan terhadap budaya dan produk dalam negeri.
“Pemberdayaan perempuan harus terus berjalan, tetapi jangan lupa mencintai Indonesia. Kita punya tekstil dan budaya yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.
Di akhir acara, Meutia mengajak seluruh ibu, khususnya para istri pejabat, untuk lebih peduli terhadap kondisi masyarakat di berbagai lapisan.
“Jangan acuh terhadap kesusahan sesama, apalagi sampai ada kasus anak kelaparan. Perempuan harus peduli, berkomunikasi, dan saling mengingatkan. Itulah yang dicontohkan Ibu saya,” kata Meutia.
Terkait peluncuran buku Rahmi Hatta, Meutia menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan yang akan berlangsung hingga 12 Agustus, bertepatan dengan bulan Bung Hatta.

