Rangkaian kegiatan diawali dengan pawai ta’aruf dari Masjid Sultan Agung 1 Ilir menuju sejumlah makam bersejarah, di antaranya makam Ki Gede Ing Suro, kompleks pemakaman Sabokingking, hingga Kawah Tengkurep, serta pemakaman Auliya Palembang Lamo. Di setiap titik, peserta menggelar pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan doa bersama.
Kegiatan ini dihadiri Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama, bersama unsur Kesultanan, ulama, tokoh masyarakat, perwakilan TNI-Polri, hingga masyarakat umum.
Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama berharap kegiatan yang telah berlangsung enam tahun ini terus berkembang dan semakin melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Artinya istikamah kita sudah berjalan. Ke depan Insya Allah akan kita buat lebih besar lagi dan berkoordinasi dengan berbagai stakeholder. Ini bukan hanya untuk zuriat Kesultanan, tetapi masyarakat Palembang secara luas,” ujar Sultan dikutip Kantor Berita RMOLSumsel, Senin, 16 Februari 2026.
Ia menegaskan, ziarah ini menjadi pengingat pentingnya menjaga ukhuwah dan tidak melupakan sejarah. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan merawat warisan leluhur.
Sementara itu, KH Ahmad Fauzi Zawawi Idzhom mengatakan, kegiatan dipusatkan di empat titik utama dan diramaikan pawai kendaraan roda dua dan roda empat yang diikuti ulama, umara, majelis taklim, majelis zikir, hingga pelajar.
“Tadi pagi kita sarapan bersama dengan masyarakat, menikmati bubur suro. Lalu dilanjutkan Yasin dan tahlil di makam. Pawai ini rutin kita gelar setiap tahun sebagai syiar sejarah dan budaya Palembang,” jelasnya.
Menurut dia, ziarah Palembang Lamo juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda yang mulai kurang mengenal adat, tradisi, hingga kuliner khas Palembang.
“Banyak generasi sekarang yang sudah tidak tahu adat istiadat dan makanan khas kita. Melalui ziarah ini, kita angkat kembali seni budaya dan tradisi agar mereka paham bahwa leluhur kita punya peradaban besar,” tegasnya.
Selain sebagai agenda religi, kegiatan ini menjadi ruang temu lintas generasi yang menghubungkan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam dengan semangat masyarakat modern untuk tetap menjaga akar budaya.

