Thomas Djiwandono (Foto: Okezone)
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) bersama jajaran menteri ekonomi tengah memperkuat strategi komunikasi terpadu guna meyakinkan investor global dan lembaga pemeringkat kredit (credit rating agency). Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di awal tahun 2026 tetap terjaga dan memiliki daya tarik investasi yang solid.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas Djiwandono mengungkapkan bahwa koordinasi intensif sedang dilakukan antarlembaga untuk menyatukan visi mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan koordinasi lebih lanjut dalam hal ini dengan Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, Danantara, dan bahkan OJK kedepannya untuk membangun sebuah narasi yang terpadu mengenai pertumbuhan ekonomi tadi yang bisa dikhususkan terhadap investor maupun credit rating agency yang akan datang di kemudian hari,” ujar Thomas dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Senada dengan hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan empat faktor kunci yang menjamin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tinggi pada kuartal I 2026. Perry menekankan bahwa periode ini akan sangat unik karena bertepatan dengan lonjakan mobilitas masyarakat.
Adanya rentetan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Tahun Baru Imlek, Idulfitri, dan Waisak yang terkumpul di triwulan pertama. “Ini akan mendorong peningkatan konsumsi,” kata Perry.
Kebijakan suku bunga dan ekspansi likuiditas yang dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga daya beli dan geliat usaha.
Adapun kebijakan anggaran dari Kementerian Keuangan yang selaras dengan kebutuhan pasar.
Menurut Perry, implementasi program kesejahteraan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga hilirisasi sektor riil yang dikelola oleh Danantara.

