Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berkaitan nota kesepahaman (MoU) antara PT Pan Brothers Tbk dan Ravel Holding Inc dalam Business Summit di Washington DC.
Adapun produk yang diimpor dari AS adalah pakaian bekas yang telah dicacah (shredded), bukan barang jadi untuk thrifting.
“Kalau Pan Brothers itu manufacturing, jadi bukan thrifting,” kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat 20 Februari 2026.
Ia menegaskan, bahan baku berupa pakaian bekas yang sudah dicacah tersebut akan diproses kembali oleh industri dalam negeri menjadi produk baru. Material itu akan dimanfaatkan dalam skema daur ulang berbasis katun maupun polyester.
“Jadi manufacturing adalah memproses baik berbasis cotton ataupun polyester recycle. Tidak ada bicara thrifting,” tegasnya.
Sebelumnya, perwakilan dunia usaha Indonesia dan AS menandatangani 11 MoU dalam ajang Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC. Kesepakatan itu menjadi bagian dari implementasi kerja sama perdagangan resiprokal kedua negara.
Airlangga menyebut, penandatanganan tersebut mencakup sektor perdagangan sebagai turunan dari perjanjian reciprocal trade, termasuk pembelian energi, produk pertanian (agriculture), hingga sektor lainnya.
Salah satu MoU yang diteken dalam kerja sama itu adalah shredded worn clothing antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, Pan Brothers, dan Ravel. Penandatanganan dilakukan oleh CEO Pan Brothers Ludijanto Setijo dan CEO Ravel Zahlen Titcomb.

