Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Alami Cedera Parah, Tim Medis Pantau Proses Pemulihan Lautaro Martinez

    February 21, 2026

    Pesantren Kilat di RPTRA Jadi Alternatif Ngabuburit Anak

    February 21, 2026

    Jonathan Burkardt: Kembali Beraksi di Bawah Pelatih Baru Frankfurt

    February 21, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Mengenal Abu Lu’lu’ah, Pembunuh Umar bin Khattab saat Salat Subuh

    Mengenal Abu Lu’lu’ah, Pembunuh Umar bin Khattab saat Salat Subuh

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 21, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Subuh yang tenang di Madinah tahun 23 Hijriah (644 M). Udara masih dingin, orang-orang baru selesai wudhu, dan di depan mereka berdiri lelaki yang namanya bikin gubernur berkeringat dalam mimpi, Umar bin Khattab. 


    Pemimpin yang kalau patroli malam sendirian, setan pun pura-pura jadi tiang kurma. Tapi sejarah memang hobi bercanda kejam. Kadang ia menunggu momen paling sakral untuk menyalakan tragedi paling brutal.

    Pelakunya bukan panglima, bukan pemberontak bersenjata pasukan. Ia seorang budak Persia, Abu Lu’lu’ah, nama aslinya Firuz atau Piruz Nahavandi. 



    Ia berasal dari Nahawand, bekas wilayah gagah Kekaisaran Sasaniyah yang runtuh setelah dihantam ekspansi Muslim. 

    Ia diduga tertawan dalam pertempuran al-Qadisiyyah (636 M) atau Nahawand (642 M). Dari prajurit atau warga negeri besar, turun kasta menjadi budak. Sejarah memang tak mengenal asuransi harga diri.

    Tapi jangan remehkan dia. Firuz bukan budak sembarang budak. Ia tukang kayu, pandai besi, joiner, bahkan ahli membuat kincir angin. Tak disebutkan, apakah ini kincir angin seperti di Belanda atau ada yang lain. 

    Kalau zaman itu ada startup, mungkin ia CTO. Ia dimiliki al-Mughirah bin Syu’bah, gubernur Basra. Karena keahliannya, ia diizinkan masuk Madinah. Padahal, Umar melarang tawanan non-Arab tinggal di ibu kota kecuali ada alasan khusus. Nah, alasan khusus ini kelak jadi ironi khusus.

    Masalahnya dua dirham sehari. Pajak kharaj yang harus ia setor kepada majikannya. Ia merasa berat. Ia mengadu langsung kepada Umar. 

    “Ringankan pajakku.” Umar, dengan logika administratif yang mungkin terlalu rasional untuk hati yang sedang panas, menilai tarif itu wajar untuk orang dengan skill set sekelas dia. 

    Bahkan, Umar meminta dibuatkan kincir angin. Firuz menjawab dengan kalimat yang kini terasa seperti trailer film horor sejarah, “Aku akan buat kincir yang dibicarakan orang dari Timur sampai Barat.” Benar. Yang berputar bukan baling-baling, tapi nasib kekhalifahan.

    Motif pajak dicatat oleh sumber klasik seperti al-Tabari. Tapi di balik dua dirham itu ada reruntuhan Persia, ada memori kekalahan nasional, ada identitas yang remuk. 

    Kadang dendam tak lahir dari angka, tapi dari luka kolektif. Luka kolektif, bila bercampur kecerdasan teknis dan akses strategis, hasilnya bukan demo di jalan, hasilnya belati bermata dua.

    Ia merencanakan semuanya berbulan-bulan. Ia membuat sendiri belati khusus, tajam di kedua sisi, gagang di tengah. Konon dilumuri bisa ular agar lebih mematikan. Ia memilih Subuh, karena Umar selalu menjadi imam. 

    Ia berlatih berdiri di saf, menghitung jarak, mempelajari ritme takbir. Ini bukan emosi spontan. Ini proyek jangka menengah dengan target tunggal.

    Tanggal 26 Dzulhijjah 23 H (sekitar 3-6 November 644 M). Di Masjid Nabawi, jemaah berbaris. 

    Umar berkata, “Luruskan saf kalian.” Lalu takbir pertama menggema. Di detik itulah Firuz bergerak. Tusukan pertama ke pundak. Lalu lima sampai enam tusukan ke perut dan pusar. Salah satu luka di pusar sangat fatal. 

    Umar roboh. Riwayat menyebut ia berteriak, “Siapa yang membunuhku?” Ada riwayat, Umar sempat mengatakan, “Apakah kaum Muslimin sudah menyelesaikan salatnya?” Subuh berubah menjadi simfoni jerit dan darah.

    Firuz tak berhenti. Ia menerobos saf, mengayunkan belati liar. Dua belas sampai tiga belas orang terluka. 

    Enam sampai sembilan sahabat gugur. Darah mengalir di lantai masjid yang biasanya hanya basah oleh air wudhu dan air mata doa. 

    Nuan bayangkan, orang datang mencari pahala, pulang membawa luka atau kematian. Sejarah kadang lebih kejam dari perang terbuka.

    Ia akhirnya terpojok. Tak ada jalan keluar dari lingkaran manusia yang murka. Ia memilih bunuh diri dengan belatinya sendiri. Ada riwayat lain yang menyebut ia sempat ditangkap lalu dieksekusi. 

    Tragedi belum selesai. Ubaydullah bin Umar, putra sang khalifah, membunuh putri Abu Lu’lu’ah, juga Hurmuzan dan Jufainah karena dituduh berkonspirasi. 

    Emosi mendahului bukti. Politik mendahului akal sehat. Sejarah mengangguk pahit, bahkan keluarga orang adil pun bisa tergelincir saat marah.

    Umar bertahan tiga hari. Dalam kondisi sekarat, ia masih menyusun mekanisme suksesi melalui musyawarah enam sahabat. Bahkan di ambang maut, ia tak mengubah sistem menjadi warisan darah. Ia wafat sekitar 3 November 644 M dan dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar.

    Satu belati bermata dua itu bukan cuma mengakhiri hidup seorang khalifah. Ia membuka babak ketegangan Arab dan non-Arab dalam kekhalifahan. 

    Dalam tradisi Sunni, Abu Lu’lu’ah dikenang sebagai pembunuh keji. Dalam sebagian tradisi Syiah Persia, ia dipandang pahlawan, bahkan dikaitkan dengan makam di Kashan dan legenda festival “Omar Koshan”.

    Kita yang membaca kisah ini sambil bergidik. Betapa rapuhnya kekuasaan, betapa mahalnya dendam, betapa cepat doa berubah jadi darah. 

    Kadang sejarah tak runtuh karena pasukan besar. Ia runtuh karena satu orang, satu luka, satu Subuh, dan mungkin, satu kebijakan yang dianggap sepele.

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Prabowo Belum Tentu Menang Telak Bila Gandeng Cawapres Bukan Gibran

    February 21, 2026

    Jokowi ke India Bisa, tapi ke Persidangan Tak Berani

    February 21, 2026

    Soal Perjanjian RI-AS, Airlangga Tunggu 60 Hari Pascaputusan MA

    February 21, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Alami Cedera Parah, Tim Medis Pantau Proses Pemulihan Lautaro Martinez

    Berita Olahraga February 21, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Italia: Kapten Inter Milan, Lautaro Martinez, terancam absen selama 1 bulan setelah…

    Pesantren Kilat di RPTRA Jadi Alternatif Ngabuburit Anak

    February 21, 2026

    Jonathan Burkardt: Kembali Beraksi di Bawah Pelatih Baru Frankfurt

    February 21, 2026

    Prabowo Belum Tentu Menang Telak Bila Gandeng Cawapres Bukan Gibran

    February 21, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Alami Cedera Parah, Tim Medis Pantau Proses Pemulihan Lautaro Martinez

    February 21, 2026

    Pesantren Kilat di RPTRA Jadi Alternatif Ngabuburit Anak

    February 21, 2026

    Jonathan Burkardt: Kembali Beraksi di Bawah Pelatih Baru Frankfurt

    February 21, 2026

    Prabowo Belum Tentu Menang Telak Bila Gandeng Cawapres Bukan Gibran

    February 21, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.