Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Prancis Sapu Emas-Perak Mass Start Biathlon Putri di Olimpiade 2026

    February 22, 2026

    Diplomasi Dagang Prabowo di AS Perkuat Pengembangan Kopdes Merah Putih

    February 22, 2026

    FBI Kumpulkan Bukti Penembakan di Mar-a-Lago : Okezone News

    February 22, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

    Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 22, 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email



     
    Pada praktiknya, istilah “hak” ini berubah seolah menjadi sedekah politik melalui istilah-istilah seperti bantuan sosial pendidikan, hibah, hingga klaim “beasiswa aspirasi” (Mudyahardjo, 2001; Kadafi, 2025).
     


    Tentu saja fenomena ini bukanlah persoalan urusan teknis pemilihan kata. Secara akademis, situasi ini merupakan strategi “eufemisme hak”; sebuah upaya menghaluskan kewajiban negara agar tampak seperti kedermawanan penguasa (Kennedy, 2024).
     
    Ketika perkara pendidikan tersebut dianggap sebagai bantuan, maka seketika posisi tawar publik pun runtuh: beralih dari warga negara yang berdaulat menjadi pemohon yang harus terus bersyukur (Reba & Sirjon, 2022).


     
    Bahasa dan Relasi Kuasa

    Sesuai Norman Fairclough (2010), dalam analisis wacana, mengingatkan bahwa bahasa adalah alat kekuasaan. Penggunaan diksi “bantuan” menciptakan sekat pembatas antara pemberi dan penerima.

    Di satu sisi, pejabat publik memposisikan diri sebagai “patron” atau pelindung yang baik hati. Sementara pada sisi lain, publik diposisikan sebagai “klien” yang berutang budi (Fairclough, 2010; Munfarida, 2020).
     
    Format relasi sedemikian itu, diperkuat dengan terjemahan makna sebagai “disiplin tubuh” (Foucault, 1984). Sehingga, untuk mendapatkan “bantuan” tersebut, mahasiswa harus melewati prosedur administrasi yang rumit, bahkan verifikasi kemiskinan yang seringkali merendahkan martabat, hingga kontrol ketat yang membuat mereka merasa selalu diawasi oleh mata kekuasaan (Mustofa, 2017; Hasanah, 2023).
     
    Politik ‘Gentong Babi’

    Situasi aktual menunjukkan tren politisasi beasiswa yang mengkhawatirkan. Sejalan dengan berbagai pemberitaan media massa yang ramai menyoroti klaim anggota legislatif terhadap beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sebagai “jatah aspirasi” mereka (Muhdi, 2025).
     
    Praktik sejenis dalam ilmu politik dikenal sebagai pork barrel politics atau politik gentong babi, yakni penggunaan dana publik untuk kepentingan elektoral pribadi (Toron, 2024).
     
    Penempelan stiker politisi atau seremoni penyerahan beasiswa oleh tokoh partai menciptakan ilusi bahwa dana tersebut berasal dari kantong pribadi sang pejabat, padahal merupakan uang pajak rakyat (Rosmawati et al., 2021).
     
    Dengan begitu, terbentuk kontrak “utang budi” massal yang boleh jadi melumpuhkan daya kritis mahasiswa sebagai agen perubahan sosial.
     
    Generasi Penurut

    Dalam kerangka pedagogis, bentuk narasi bantuan ini mereduksi bahkan mengeliminasi semangat kemandirian intelektual. Kita perlu berkaca dari Paulo Freire (1970) dalam karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed yang memperingatkan tentang bahaya “kedermawanan palsu.”
     
    Pada plot ketika kelompok elite penguasa, atau dalam konteks ini merujuk pada bentuk sistem yang tidak adil, tengah memberikan bantuan kecil tanpa mengubah struktur yang memiskinkan, mereka sebenarnya sedang mempertahankan kekuasaannya (Freire, 1970; Salam, 2023).
     
    Karena itu pula maka mahasiswa yang merasa “dibantu” akan cenderung menjadi pasif dan takut bersuara kritis (Ari Hamzah, 2023). Terjebak dalam model “pendidikan gaya bank,” di mana mereka hanya menerima setoran pengetahuan tanpa berani mempertanyakan mengapa sistem pendidikan menjadi begitu mahal dan diskriminatif (Freire, 1970; Felinda et al., 2025).
     
    Sudah saatnya kita perlu berhenti menyebut pemenuhan hak pendidikan sebagai bantuan. Pada perspektif yuridis, pengelolaan dana pendidikan melalui skema bantuan sosial sering kali melemahkan akuntabilitas, karena sifatnya yang tidak wajib diberikan secara terus-menerus (Mudiawati et al., 2023; Sjaifudian, 2025). Padahal merupakan kewajiban negara.
     
    Resolusi strategisnya sederhana dan fundamental: bahwa pemerintah dan para politisi harus mengembalikan marwah pendidikan sebagai kewajiban absolut negara. Penyaluran beasiswa harus dilakukan secara transparan melalui sistem digital yang objektif, tanpa perlu syarat berbelit serta embel-embel wajah pejabat atau klaim aspirasi partai.
     
    Hanya dengan menganggap pendidikan bersifat mutlak sebagai hak, maka kita bisa melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga merdeka secara pikiran. Tersebab karena pendidikan adalah alat pembebasan, dan bukanlah alat penjinakan. Merdeka!

    Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Diplomasi Dagang Prabowo di AS Perkuat Pengembangan Kopdes Merah Putih

    February 22, 2026

    Proyek Tol Muara Enim-Prabumulih Lanjut Setelah Lebaran

    February 22, 2026

    Dua Orang Tewas dalam Serangan Bersenjata di Distrik Makimi

    February 22, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Prancis Sapu Emas-Perak Mass Start Biathlon Putri di Olimpiade 2026

    Berita Olahraga February 22, 2026

    Ligaolahraga.com -Prancis menutup cabang biathlon Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan dominasi impresif.Océane Michelon merebut medali…

    Diplomasi Dagang Prabowo di AS Perkuat Pengembangan Kopdes Merah Putih

    February 22, 2026

    FBI Kumpulkan Bukti Penembakan di Mar-a-Lago : Okezone News

    February 22, 2026

    Penolakan Lapangan Padel di Area Pemukiman

    February 22, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Prancis Sapu Emas-Perak Mass Start Biathlon Putri di Olimpiade 2026

    February 22, 2026

    Diplomasi Dagang Prabowo di AS Perkuat Pengembangan Kopdes Merah Putih

    February 22, 2026

    FBI Kumpulkan Bukti Penembakan di Mar-a-Lago : Okezone News

    February 22, 2026

    Penolakan Lapangan Padel di Area Pemukiman

    February 22, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.