Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Surabaya Samator Menambah Penderitaan Garuda Jaya

    February 22, 2026

    Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

    February 22, 2026

    Gerimis Warnai CFD Pertama Ramadhan, Kawasan Bundaran HI Thamrin Lebih Lengang : Okezone News

    February 22, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Khalid bin Walid, Jenderal Tak Terkalahkan itu Dipecat

    Khalid bin Walid, Jenderal Tak Terkalahkan itu Dipecat

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 22, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Karena tak pernah kalah, ia dipecat oleh khalifah Umar bin Khattab. Lah, kok bisa? 


    Kalau hari ini ada jenderal yang tak pernah perang, pasti trending topic seminggu penuh, baliho lima kilometer, dan mungkin namanya diusulkan jadi nama jalan sebelum wafat. 

    Pastinya bukan jenderal yang itu. Kalau jenderal yang ini, beda. Dialah Khalid bin Walid, dijuluki Saifullah, Pedang Allah. Panglima perang abad 7. 



    Gelar Saifullah itu diberikan langsung dari Rasulullah. Bukan hasil tim branding, bukan buzzer gurun, tapi lahir dari darah, debu, dan taktik yang bikin musuh pusing tujuh turunan.

    Lahir di Mekah dari Bani Makhzum, Khalid awalnya berada di kubu lawan. Di Perang Uhud (625 M), ia memimpin manuver flank yang brilian dan membalik keadaan. 

    Strategi kelas dewa. Tahun 629 M, ia masuk Islam. Tak pakai masa orientasi. Langsung terjun di Perang Mu’tah melawan Bizantium: 3.000 Muslim menghadapi sekitar 100.000 pasukan. Tiga panglima gugur. 

    Khalid ambil alih komando. Serangan balik cerdas, mundur teratur, pasukan selamat dari kehancuran total. 

    Saat itulah Rasulullah menyebutnya Pedang Allah. Pian bayangkan, di zaman tanpa drone, tanpa satelit, tapi taktiknya bikin kekaisaran megap-megap.

    Di era Abu Bakr ash-Shiddiq, ia jadi tulang punggung Perang Riddah. Di Buzakha, ia mengalahkan Tulaihah dengan memanfaatkan retaknya solidaritas suku. 

    Di Yamama, ia menerobos “Taman Maut” milik Musailimah al-Kazzab. Pasukan terdesak, tapi Khalid memimpin gelombang serangan sampai Musailimah tewas. Arabia kembali utuh. Ini bukan sekadar menang perang; ini menyelamatkan fondasi negara muda yang bisa saja ambruk sebelum dewasa.

    Lalu Irak. Menghadapi Sassaniyah (Persia), ia merebut al-Hirah, menang di Walaja dan Ullais lewat jebakan taktis dan serangan mendadak. Ia menyeberangi gurun enam hari tanpa air, menyimpan cadangan di perut unta, logistik level survival ekstrem. 

    Di Suriah, ia menaklukkan Ajnadayn (634 M), Fahl, mengepung Damaskus (635 M). Puncaknya di Perang Yarmuk (Agustus 636 M): 30.000–40.000 Muslim menghadapi 150.000–200.000 Bizantium di bawah Heraclius. 

    Khalid membagi sayap kiri-kanan, pura-pura mundur, memanfaatkan kabut dan lembah, serangan malam. Enam hari duel strategi. Musuh runtuh di jurang Yarmuk. Suriah, Palestina, Yerusalem terbuka. Kalau ini film, ratingnya 9,9.

    Di tengah semua itu, Khalid berkata, “Kemenangan bukan karena aku, tapi karena Allah.” Kalimat yang jarang terdengar di podium kemenangan zaman now.

    Lalu datang keputusan yang bikin banyak orang melongo. Umar bin Khattab memecatnya pada 17 H (638 M), menggantikannya dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Setelah Yarmuk. Setelah rentetan gemilang. Bukan karena khianat. Bukan karena kalah. Tapi karena tauhid dan disiplin negara.

    Umar khawatir umat mulai salah fokus. “Khalid yang membawa kemenangan.” Seolah-olah langit tunduk pada satu manusia. 

    Umar ingin menegaskan, Allah-lah yang menolong agama-Nya, dengan atau tanpa Khalid. Sindiran halus bagi siapa pun yang merasa kursinya adalah penentu takdir bangsa. Kursi bisa berganti, misi tetap berjalan.

    Ada pula soal administrasi ghanimah. Khalid dituduh terlalu longgar membagi harta kepada pejuang, bangsawan, penyair; sementara Umar memprioritaskan Muhajirin miskin. Diselidiki di Homs, tak ditemukan korupsi. Tapi Umar tetap tegas, negara butuh disiplin. Tegas tanpa dendam, keras tanpa benci.

    Lihat respons Khalid. Tidak konferensi pers. Tidak drama. Ia berpidato di Qinnasrin dan Homs, menerima keputusan itu dengan ikhlas, lalu bertempur sebagai prajurit biasa. 

    Ente bayangkan, panglima tak terkalahkan turun pangkat tanpa menggerutu. Di zaman ketika sedikit saja jabatan bergeser orang bisa menuduh semesta berkonspirasi.

    Khalid wafat pada 21 H (642 M), karena sakit, di Homs atau Madinah (riwayat berbeda). Ia meninggal sederhana, hanya meninggalkan kuda, pedang, seorang pelayan. Umar menangis, menyebutnya perisai umat. Di akhir hayat, Khalid mengakui keputusan Umar semata karena Allah.

    Inilah epik yang membuat kita kagum. Kehebatan tanpa kesombongan, kekuasaan tanpa ketergantungan, pemecatan tanpa pemberontakan. 

    Seorang panglima rela “turun” demi menjaga tauhid. Seorang khalifah berani mencopot jenderal terpopuler demi akidah dan tata kelola. Di tengah dunia yang gemar mengultuskan figur dan alergi pada evaluasi, kisah ini seperti cambuk lembut. 

    Kemenangan bukan milik manusia, jabatan bukan mahkota abadi, dan integritas lebih mahal dari tepuk tangan. Semoga Allah meridhai keduanya. Wallahu a’lam.

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

    February 22, 2026

    Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

    February 22, 2026

    Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

    February 22, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Surabaya Samator Menambah Penderitaan Garuda Jaya

    Berita Olahraga February 22, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Voli: Surabaya Samator memberikan kekalahan keempat secara beruntun untuk Jakarta Garuda Jaya. Hasil…

    Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

    February 22, 2026

    Gerimis Warnai CFD Pertama Ramadhan, Kawasan Bundaran HI Thamrin Lebih Lengang : Okezone News

    February 22, 2026

    Bikin Blunder Saat Dikalahkan Como, Spalletti Bela Michele Di Gregorio

    February 22, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Surabaya Samator Menambah Penderitaan Garuda Jaya

    February 22, 2026

    Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

    February 22, 2026

    Gerimis Warnai CFD Pertama Ramadhan, Kawasan Bundaran HI Thamrin Lebih Lengang : Okezone News

    February 22, 2026

    Bikin Blunder Saat Dikalahkan Como, Spalletti Bela Michele Di Gregorio

    February 22, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.