Terkini, program tersebut telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat dan ditargetkan mencapai 82 juta penerima paling lambat Desember 2026.
MBG dijalankan dapur SPPG yang operasional sebanyak 22.275 unit. Setiap dapur SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 orang per hari.
Bagi Founder the Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR), Muhammad Makmun Rasyid, pelaksanaan MBG menunjukkan manfaat nyata pada masyarakat.
Kata dia, dampak lanjutan MBG berpotensi terasa kuat di sektor hulu, khususnya pertanian dan ekonomi desa. Menurutnya, kebutuhan pasokan pangan dalam skala besar dan berkelanjutan menciptakan kepastian pasar bagi petani.
Sambungnya, dengan adanya permintaan yang stabil dan terukur dari dapur-dapur MBG, desa memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Ini dapat memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda di sektor pertanian,” kata Makmun dalam keterangan tertulis, Senin 23 Februari 2026.
Ia menjelaskan, peningkatan kebutuhan terhadap komoditas seperti sayur, buah, telur, dan sumber protein lainnya mendorong aktivitas produksi, distribusi, hingga pengolahan hasil pertanian di tingkat lokal. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan laju urbanisasi dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Makmun juga menekankan pentingnya dukungan lanjutan berupa akses pembiayaan, teknologi, dan kemitraan usaha agar peluang ekonomi yang tercipta dari MBG dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani, termasuk kalangan muda.
“Dengan ekspansi dapur SPPG yang terus berjalan, program ini diharapkan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.

