Close Menu
IDCORNER.CO.ID

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Vitor Pereira Kecewa Nottingham Forest Kalah Dramatis dari Liverpool

    February 23, 2026

    4 Cara Atur Waktu Tidur Selama Ramadan 2026

    February 23, 2026

    Duta Besar Inggris Dominic Jermey Antusias Kolaborasi dan Tampil di Masterchef Indonesia : Okezone Celebrity

    February 23, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    IDCORNER.CO.IDIDCORNER.CO.ID
    • Homepage
    • Berita Nasional
    • Berita Teknologi
    • Berita Hoaks
    • Berita Dunia
    • Berita Olahraga
    • Program Presiden
    • Berita Pramuka
    IDCORNER.CO.ID
    Home»Berita Nasional»Free Float 15 Persen, Solusi Ujian Berat Pasar Modal

    Free Float 15 Persen, Solusi Ujian Berat Pasar Modal

    PewartaIDBy PewartaIDFebruary 23, 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email




    Setelah peringatan serius dari penyedia indeks global soal investability dan transparansi, regulator dan bursa bergerak. OJK juga telah menegaskan percepatan reformasi integritas pasar, termasuk menaikkan ketentuan free float dari 7,5% menjadi 15% secara bertahap.


    Masalahnya, menaikkan free float berarti menambah pasokan saham publik. Bursa menyebut ada 267 emiten yang perlu menyesuaikan diri, dan pasar diperkirakan harus “menyerap” tambahan setara Rp 187 triliun agar ketentuan 15% tercapai. Ini bukan angka kecil; ini setara dengan ujian likuiditas dan kapasitas permintaan domestik di saat sentimen global juga mudah berubah.

    Tetapi konteks makro ekonomi perlu diletakkan di meja yang sama. Ekonomi Indonesia 2025 tetap tumbuh 5,11%, lebih tinggi dari 2024, dan otoritas moneter masih mematok inflasi 2026 pada sasaran 2,5±1%. Fondasi ini memberi ruang untuk reformasi struktural tanpa harus menekan tombol panik—asal eksekusinya cermat.



    Masalah Utama Apa?

    Pertama, ada persoalan klasik pasar: keseimbangan pasokan–permintaan. Jika tambahan free float dilakukan serentak, harga bisa tertekan bukan karena bisnis emiten memburuk, melainkan karena mekanika pasar kebanjiran saham.

    Kekhawatiran ini wajar, apalagi Reuters mencatat rencana penyesuaian dapat membuat ratusan perusahaan perlu menerbitkan saham bernilai miliaran dolar untuk memenuhi ketentuan free float dalam beberapa tahun.

    Kedua, “free float” bukan sekadar persentase. Dalam metodologi MSCI, free float adalah porsi saham yang benar-benar dianggap tersedia bagi investor publik (bukan terkunci oleh pemegang strategis). Karena itu, pasar global menilai bukan hanya jumlah saham publik, melainkan juga keterbacaan kepemilikan dan potensi afiliasi.

    OJK sendiri sudah menempatkan transparansi kepemilikan dan penguatan pengawasan sebagai satu paket reformasi pasca-sorotan indeks global.

    Ketiga, dampaknya tidak merata. Emiten berkapitalisasi besar dengan kepemilikan terkonsentrasi menghadapi dilema: menambah free float berarti pengendali melakukan sell-down atau emiten melakukan aksi korporasi yang bisa mengubah struktur kontrol.

    Bagi emiten kecil-menengah, penambahan free float bisa lebih mudah, tetapi risikonya adalah tekanan harga jika likuiditas dasarnya tipis.

    Keempat, secara teori, kebijakan ini benar arahnya dan banyak riset lintas negara menemukan bahwa free float yang lebih tinggi berkorelasi dengan likuiditas yang lebih baik, menurut artikel ilmiah “Free float and market liquidity around the world” di Journal of Empirical Finance (2016).

    Namun, teori dan kajian ilmiah yang benar tetap bisa menghasilkan hasil yang tidak sesuai ekspektasi jika transisinya salah tempo.
    Rekomendasi tahapan

    Tahap 1: “peta pasar” siapkan dulu, baru “gas reformasi” (0–6 bulan). OJK sudah menyatakan bahwa penerapan bertahap dan IPO baru bisa langsung 15%. Langkah yang perlu dipertegas adalah pemetaan gap per emiten (berapa kekurangan free float), plus kalender penyesuaian yang dibuka ke publik—agar pasar bisa mengantisipasi pasokan.

    Pada fase ini, fokus utama harus pada transparansi data kepemilikan dan klasifikasi investor, karena itulah bahasa yang dimengerti penyedia indeks dan dana pasif global.

    Tahap 2: serap pasokan dengan memperbesar “kantong permintaan” (6–18 bulan). Berita Reuters menyatakan bahwa pemerintah melalui Menko Perekonomian pernah menyampaikan komitmen reformasi pasar termasuk peningkatan free float dan pelonggaran ruang investasi institusi seperti dana pensiun/asuransi agar bisa menambah eksposur terhadap saham.

    Ini penting: tambahan Rp 187 triliun tidak realistis ditopang oleh investor ritel saja. Yang dibutuhkan adalah permintaan institusional jangka panjang, instrumen pendukung (misalnya market making yang efektif), dan pipeline ETF/reksa dana indeks yang lebih dalam —agar pasokan saham publik bertemu pembeli yang informatif.

    Tahap 3: masa transisi selama 2–3 tahun dengan “rem darurat” yang jelas (18–36 bulan). BEI sendiri menyebut penyesuaian bagi 267 emiten berpotensi diberi transisi sekitar 2–3 tahun, dan ada pemberitaan bahwa bursa menyiapkan tenggat beberapa tahun untuk kepatuhan.

    Pada fase ini, penegakan harus tegas tetapi tidak destruktif: sanksi bertingkat, insentif bagi emiten yang patuh lebih cepat, dan ruang fleksibilitas terbatas untuk kasus yang benar-benar berisiko mengganggu stabilitas harga.

    Penutup

    Kebijakan free float 15% pada dasarnya adalah upaya memperbaiki “pipa” pasar modal yang seret: likuiditas, keterbacaan kepemilikan, dan biaya transaksi bagi investor besar. Paket reformasi ini juga lahir dari kebutuhan untuk menjaga posisi Indonesia di mata penyedia indeks global—pintu masuk utama bagi aliran dana pasif global.

    Angka Rp187 triliun memang membuat dahi berkerut. Namun justru di situlah seni kebijakan: menaikkan standar transparansi tanpa menciptakan guncangan pasokan. Dan karena fundamental makro masih relatif kuat—pertumbuhan 5,11% dan sasaran inflasi yang jelas—Indonesia punya modal waktu untuk menjalankan transisi dengan rapi.

    Jika tahapan dilakukan secara disiplin dan konsisten—pemetaan, pendalaman permintaan institusional, lalu penegakan bertahap— maka free float 15% bisa berubah dari “biaya kepatuhan” menjadi “premi kepercayaan” yang menurunkan risiko dan memperluas alternatif basis pembiayaan nasional.

    *Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific



    Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    PewartaID

    Related Posts

    4 Cara Atur Waktu Tidur Selama Ramadan 2026

    February 23, 2026

    Ingatkan Ketua DPRD Kotim, Pengamat: Jangan Pidanakan Aspirasi

    February 23, 2026

    Legislator Demokrat Tuding Jokowi Ambigu soal Revisi UU KPK

    February 23, 2026

    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Don't Miss

    Vitor Pereira Kecewa Nottingham Forest Kalah Dramatis dari Liverpool

    Berita Olahraga February 23, 2026

    Ligaolahraga.com -Berita Liga Inggris: Vitor Pereira mengakui rasa frustrasinya setelah Nottingham Forest harus menelan kekalahan…

    4 Cara Atur Waktu Tidur Selama Ramadan 2026

    February 23, 2026

    Duta Besar Inggris Dominic Jermey Antusias Kolaborasi dan Tampil di Masterchef Indonesia : Okezone Celebrity

    February 23, 2026

    Johannes Lochner Tutup Karier Olimpiade dengan Emas Bobsled Empat Orang

    February 23, 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Our Picks

    Vitor Pereira Kecewa Nottingham Forest Kalah Dramatis dari Liverpool

    February 23, 2026

    4 Cara Atur Waktu Tidur Selama Ramadan 2026

    February 23, 2026

    Duta Besar Inggris Dominic Jermey Antusias Kolaborasi dan Tampil di Masterchef Indonesia : Okezone Celebrity

    February 23, 2026

    Johannes Lochner Tutup Karier Olimpiade dengan Emas Bobsled Empat Orang

    February 23, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    © 2026 ID Corner News

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.