Menurut pengamat politik Nurul Fatta menilai, secara teoritis Prabowo memang berpotensi kehilangan sebagian pemilih loyal Presiden ke-7 RI Joko Widodo apabila tidak bersama Gibran. Segmen ini dinilai memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap figur Jokowi.
“Pemilih tipe ini bukan semata rasional-programatik, melainkan berbasis afeksi politik (affective attachment) terhadap figur Jokowi,” ujar Fatta kepada RMOL, Senin, 23 Februari 2026.
Namun demikian, ia menekankan bahwa konteks politik 2029 berbeda dibanding kontestasi sebelumnya. Sebagai petahana, Prabowo memiliki keunggulan struktural dan elektoral yang signifikan.
“Namun di sisi lain, harus diakui bahwa posisi Prabowo hari ini relatif berbeda dibanding kontestasi sebelumnya. Tanpa dukungan eksplisit Jokowi pun, ia berada dalam posisi elektoral yang lebih unggul dibandingkan calon potensial lainnya,” jelasnya.
Fatta menambahkan, potensi fragmentasi suara pro-Jokowi memang bisa terjadi jika Gibran mengambil langkah politik sendiri dengan dukungan Jokowi. Meski begitu, ia menilai faktor kekuasaan dan kinerja sebagai petahana tetap menjadi modal utama Prabowo untuk tetap kompetitif bahkan moncer di 2029.
“Status sebagai petahana (incumbent) memberikan keuntungan yang tidak kecil,” pungkasnya.

