Wakil Menteri Keuangan Juda Agung merinci, realisasi pembiayaan utang tersebut setara 15,3 persen dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026 yang dipatok Rp832,2 triliun.
“Hingga 31 Januari 2026, realisasi pembiayaan utang tercatat Rp127,3 triliun atau 15,3 persen dari target APBN 2026,” kata Juda Agung dalam konferensi pers APBN di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin 23 Februari 2026.
Ia menjelaskan, total penarikan utang tersebut kemudian dikurangi dengan kebutuhan pembiayaan non-utang yang realisasinya mencapai Rp22,2 triliun per Januari 2026.
Dengan demikian, nominal pembiayaan anggaran secara keseluruhan tercatat sebesar Rp105,06 triliun atau setara 15,2 persen dari total defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,15 triliun.
“Perkembangan realisasi pembiayaan ini strategi yang lebih terukur, disesuaikan kebutuhan kas pemerintah, dan dinamika pasar keuangan,” tuturnya.
Adapun penarikan utang ini periode ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp153,33 triliun.
“Kami memastikan pembiayaan mendukung stabilitas APBN dan menjaga pengelolaan utang pemerintah,” tandas Juda.

