
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia —
Tiga petugas SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur menjadi korban aksi penganiayaan oleh seorang pria mengaku aparat berinisial JMH yang emosi karena tak diberi jatah BBM subsidi pertalite.
Pelaku berhasil ditangkap tim gabungan Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur dan Unit Reskrim Polsek Pulogadung di kawasan Rawalumbu, Bekasi Timur pada Selasa (24/2).
CNNIndonesia.com merangkum sejumlah fakta terkait aksi penganiayaan petugas SPBU itu, sebagai berikut
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku bukan aparat
Sempat beredar kabar bahwa pelaku penganiayaan merupakan seorang aparat. Namun, setelah didalami, polisi memastikan pelaku adalah warga sipil yang berprofesi sebagai wiraswasta.
“Pelaku sudah diamankan dan dipastikan bukan anggota Polri,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam keterangannya, Selasa.
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal menyebut pelaku berinisial JMH merupakan pekerja rental. Namun, Alfian belum menjelaskan lebih lanjut ihwal pekerjaan pelaku.
“Pelaku berinisial JMH (31) dipastikan bukan anggota Polri, melainkan seorang pekerja rental,” kata dia, Rabu (25/2).
Pakai pelat bodong
Dalam penganiayaan itu, pelaku diketahui juga memakai Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) yang tidak sesuai peruntukannya alias pelat bodong.
Berdasarkan foto yang diterima, pelat nomor yang digunakan oleh pelaku bernomor L-1-XD. Pelat nomor itu bukan diperuntukkan untuk mobil Toyota Vellfire hitam yang digunakan pelaku.
Kepada polisi, pelaku mengaku menggunakan pelat bodong tersebut agar bisa mengisi BBM subsidi jenis Pertalite pada kendaraannya.
“Pernyataan saya kenapa kamu pakai TNKB palsu?,” kata Alfian dalam video yang diunggah dalam akun Instagram @alfiannurrizal.id, dikutip Rabu (25/2).
“Siap untuk isi Pertalite pak,” jawab pelaku.
“Pertalite, untuk cari murah?,” tanya Alfian.
“Siap,” jawab pelaku.
Alasan sebut ‘jenderal’
Masih dalam video itu, Alfian turut menanyakan ihwal alasan pelaku sempat menyebut bahwa mobil yang ia kemudian adalah kendaraan ‘jenderal’.
“Kamu kenapa kok memilih ini mobil jenderal?,” tanya Alfian.
“Biar diisi pak,” kata pelaku.
“Terus maksud kamu jenderal apa? Jenderal polisi atau jenderal TNI?,” tanya Alfian lagi.
“Tidak ada sebut instansinya, cuma sebut jenderal,” jawab pelaku.
Dalam video itu, Alfian turut menanyakan kepada pelaku soal alasan melakukan penganiayaan. Pelaku berdalih penganiayaan dilakukan lantaran bajunya ditarik duluan oleh petugas SPBU.
Positif narkoba
Alfian turut mengungkapkan pelaku penganiayaan petugas SPBU itu ternyata positif narkoba berdasarkan hasil tes urine.
Alfian menerangkan pihaknya melakukan tes urine lantaran pelaku kerap mengubah keterangan saat proses pemeriksaan.
“Setelah dilakukan tes urine, pelaku dinyatakan positif mengonsumsi narkotika jenis sabu dan ganja,” ucap Alfian.
3 pegawai jadi korban
Tiga pegawai SPBU menjadi korban penganiayaan orang tersebut.
“Iya betul, ada tiga korban pegawai kami yang diduga dianiaya oleh oknum aparat,” kata salah satu Staf SPBU 3413901, Mukhlisin (38) saat ditemui di SPBU Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin.
Mukhlisin menyebutkan total ada tiga korban dalam kejadian tersebut, yakni satu staf dan dua operator.
Mereka adalah Ahmad Khoirul Anam, yang telah bekerja sekitar lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim, operator yang baru enam bulan bekerja setelah lulus SMK dan Abud Mahmudin, operator dengan masa kerja sekitar empat tahun.
“Khoirul Anam kena tamparan di pipi. Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya goyang,” kata Mukhlisin.
Gigi patah
Gigi seorang operator SPBU bernama Abud Mahmudin (28) patah akibat dihajar oleh pelaku.
“Gigi saya patah jadi setengah doang, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena pas dihajar bagian pipi,” kata Abud saat ditemui di SPBU 3413901 Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa.
Pria yang telah bekerja sekitar empat tahun sebagai operator SPBU itu mengaku tidak mengetahui secara pasti awal mula keributan yang terjadi di lokasi kerjanya.
Saat peristiwa itu berlangsung, dia hanya berniat melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU.
Melihat rekannya dipukul, Abud refleks mendekat. Namun, dia mengaku tidak ikut berbicara ataupun terlibat dalam perdebatan.
Pelaku lantas menunjuk-nunjuk ke arahnya sebelum melayangkan pukulan. Pukulan pertama mengenai bagian mata hingga membuatnya pusing dan kebingungan.
Tak berhenti di situ, pelaku kembali menghampirinya dan memukul bagian pipi serta area atas belakang telinga. Pukulan tersebut berdampak serius pada bagian mulut korban.
“Semakin sakit, apalagi gigi saya sampai patah,” ucap Abud.
Akibat luka tersebut, dia mengaku kesulitan makan dan berbicara. Bahkan saat berbuka puasa, dia merasakan nyeri yang cukup mengganggu.
“Susah makan. Buka puasa juga susah. Ngomong aja masih ngilu,” kata Abud.
(dis/gil)
[Gambas:Video CNN]

