Jakarta, CNN Indonesia —
Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka (1908-1981) bukanlah seorang pemuka agama biasa.
Sosok yang dinobatkan jadi Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2011 melalui Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 itu dikenal sebagai ulama, sastrawan, bahkan pernah dipenjara rezim.
Beberapa karya sastra populer Buya Hamka adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938). Kemudian literatur terkait ke-Islaman adalah seri Tafsir Al Azhar. Dalam salah satu bukunya, Buya Hamka pun menceritakan peristiwa pada 12 Ramadan 1385 H atau 28 Januari 1964, ketika dirinya ditangkap polisi dengan menggunakan tuduhan pelanggaran aturan Antisubsversif atau Penpres No.11 dan No.13.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalamannya itu diceritakan detail dalam pengantar buku ‘Tasawuf Modern‘. Dalam tempo sekitar 57 tahun, Buya Hamka melahirkan setidaknya 84 judul buku.
Buya Hamka merupakan putra dari pasangan Abdul Karim Amrullah dan Sitti Shafiah. Ia lahir pada 17 Februari 1908 di Sungaibatang, Agam.
Ia dididik penuh dalam ajaran Islam sebab ayahnya adalah seorang ulama di tanah Minangkabau sementara sang ibu berlatar belakang keluarga seniman. Ayah Hamka yang dikenal dengan sapaan Haji Rasul adalah salah satu tokoh terkemuka dalam gerakan pembaruan Islam di Sumatera Barat.
Mengutip dari laman resmi PP Muhammadiyah, Haji Rasul adalah pelopor Gerakan Ishlah (tajdid) di Minangkabau.
“Ketika kecil, Buya Hamka kerap mendengar pantun tentang alam Minangkabau dari anduang-nya(nenek). Hal itu terjadi jika sang ayah harus bepergian untuk berdakwah. Kemudian Buya Hamka pindah ke Padang Panjang mengikuti kepindahan orang tuanya,” demikian dikutip dari laman tersebut.
Di bawah pengaruh ayahnya, Hamka tumbuh dalam lingkungan yang sangat kental dengan tradisi keagamaan dan pembaruan Islam.
Pada usia yang masih muda, Hamka lalu menuntut ilmu ke-Islaman seraya naik haji ke Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Dengan embel-embel ‘Haji’ sekembalinya dari Mekkah, sapaannya menjadi ‘Hamka’ yang merupakan akronim dari nama lengkapnya.
Setelah kembali dari Mekkah, dia kemudian terlibat dalam perkembangan ke-Islaman bersama Muhammadiyah dari mulai tanah kelahirannya hingga ke Jakarta.
Puncaknya, dia pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama pada Juli 1975- Mei 1981.
Pergerakan hingga literatur
Hamka muda ketika merantau ke Jawa melakukan belajar pergerakan islam modern. Salah satunya ketika dia belajar dari HOS Tjokroaminoto–yang belakangan jadi ‘guru’ bagi sejumlah tokoh pergerakan nasional, termasuk Presiden pertama RI Sukarno.
Dari sana dia mulai mengenal perbandingan antara pergerakan politik Islam, yaitu Sarekat Islam Hindia Timur dan gerakan Sosial Muhammadiyah.
Hamka aktif menulis di berbagai publikasi terbitan Muhammadiyah dan mengeluarkan banyak karya sastra yang sarat dengan pesan-pesan moral dan keagamaan.
Kiprahnya di berbagai bidang membuat Buya Hamka banyak dikenal orang berkat pemikirannya yang membawa pengaruh baik dan menciptakan sejumlah karya. Tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga sampai ke Malaysia dan Timur Tengah.
Hal yang unik dari Buya Hamka adalah ketika dia rela menjadi imam salat jenazah Sukarno–penguasa rezim yang pernah memenjarakannya dengan tuduhan subversif.
Permintaan Buya Hamka menjadi salat jenazah Bung Karno saat wafat itu adalah wasiat dari proklamator RI tersebut semasa hidupnya.
Tanpa dendam karena telah dipenjarakan rezim dengan tuduhan subversif, akhirnya pada 21 Juni 1970, Buya Hamka pun menjadi imam salat jenazah Bung Karno. Dan, sehari kemudian Bung Karno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, sehari kemudian.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.
(nat/kid)
[Gambas:Video CNN]

