Jadi apa pula salahnya Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya, Arya Iwantoro, yang orang tuanya dikabarkan adalah seorang Sekjen Kementan?
Sejak awal memang, beasiswa LPDP bukan diperuntukkan bagi keluarga yang kurang mampu.
Asal lulus tes, dan tesnya itu, menurut Sekjen Golkar Sarmuji, hanya mungkin dilewati justru oleh keluarga yang mampu seperti Anies Baswedan.
Makanya Sarmuji, yang juga anggota DPR menyuarakan reformasi total terhadap penerima beasiswa LPDP ini.
Sebab, dananya setiap tahun terus meningkat. Saat ini saja hampir mencapai Rp200 triliun. Suatu angka yang sangat besar dan menyedihkan, kalau lulusannya seperti Dwi Sasetyaningtyas.
Tujuan dari LPDP tidak saja meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, tapi juga untuk pemerataan pendidikan di Indonesia terhadap keluarga yang kurang mampu.
Tujuan kedua inilah yang kurang diperhatikan, tegas Sekjen Golkar itu.
Buat apa negara ikut-ikutan memberi beasiswa untuk sebuah keluarga yang mampu menyekolahkan anak sendiri, kalau akhirnya akan seperti Dwi Sasetyaningtyas?
Tyas pastilah hanya kebetulan yang terungkap saking bahagianya dan lepas kontrol. Yang diam-diam, mungkin banyak.
Sarmuji berteori bahwa orang mampu itu pilihan hidupnya sudah banyak sejak awal. Beda dengan orang yang kurang mampu, yang pilihan hidupnya tidak banyak.
Maka saat negara memilihkan hidup buat dirinya, dia akan menerima dengan suka cita dan bangga. Tidak seperti Dwi Sasetyaningtyas dan yang lainnya.
Jadi, syarat penerima beasiswa LPDP harus diubah yang memungkinkan orang yang kurang mampu bisa diterima lebih banyak.
Syaratnya tidak hanya lebih mudah, tapi juga lebih murah bagi orang yang kurang mampu, agar bisa terjangkau.
Bayangkan, saat Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya diminta mengembalikan beasiswa yang sudah diterima lengkap dengan bunganya, dengan enteng maka ia menyanggupinya.
Artinya, beasiswa itu sebetulnya tak terlalu perlu lagi bagi dirinya, sejak awal.
Sikap atau perilaku seperti penerima beasiswa LPDP ini sebetulnya menjangkiti banyak sektor dalam kehidupan negara-bangsa kita.
Pejabat yang sudah diberi gaji besar, tapi korupsi juga. Minimal, korupsi waktu dan lain sebagainya.
Mungkin karena itulah negara-bangsa ini sulit sekali untuk maju. Banyak yang tak tahu diri ketimbang yang benar-benar tahu akan dirinya.
Orang yang lupa diri, dalam teks-teks agama dikatakan, berpotensi sekali melupakan Tuhannya.
Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

