TEHERAN – Di tengah gempuran rudal canggih dari Amerika Serikat dan Israel, Iran meluncurkan strategi serangan balik yang cukup mengejutkan. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa banyak dari pesawat tak berawak (drone) yang digunakan Iran untuk menyerang aset-aset AS ternyata menggunakan komponen “murah” yang dibeli melalui platform e-commerce global.
Kekuatan di Balik “Drone Murah”
Para ahli militer terkejut saat memeriksa sisa-sisa drone Iran yang jatuh. Mereka menemukan bahwa komponen-komponen krusial di dalamnya bukan berasal dari pabrikan militer rahasia, melainkan barang-barang sipil:
Mesin Serbaguna: Mesin kecil yang digunakan seringkali merupakan mesin untuk pesawat model atau peralatan hobi yang dijual bebas di internet.
Suku Cadang Umum: Komponen seperti sensor GPS dan modul komunikasi ditemukan berasal dari produk konsumen yang mudah didapatkan siapa saja melalui situs belanja online.
Biaya Rendah, Dampak Tinggi: Satu unit drone ini diperkirakan hanya berbiaya beberapa ribu dolar, namun mampu merusak aset militer bernilai jutaan dolar.
Mengapa Strategi Ini Berhasil?
Strategi ini dikenal sebagai “serangan kawanan” (swarming attack). Dengan harga yang sangat murah, Iran mampu meluncurkan puluhan hingga ratusan drone sekaligus untuk:
Membebani Sistem Pertahanan: Rudal pertahanan udara (seperti Patriot) milik AS sangat mahal dan jumlahnya terbatas. Menggunakan rudal seharga jutaan dolar untuk menjatuhkan drone “murah” dianggap sebagai kerugian ekonomi bagi AS.
Menembus Celah: Banyaknya jumlah drone yang datang secara bersamaan meningkatkan peluang beberapa di antaranya lolos dari intersepsi dan mengenai target.
Tantangan bagi AS dan Platform E-Commerce
Fenomena ini memicu perdebatan mengenai pengawasan barang-barang yang dijual secara online.
Regulasi Ekspor: AS mulai menekan perusahaan teknologi dan platform e-commerce untuk memperketat penjualan komponen sensitif yang bisa dialihfungsikan menjadi senjata.
Kesulitan Pelacakan: Karena komponen tersebut adalah barang “sipil”, sangat sulit untuk melacak pembeli asli yang mungkin menggunakan identitas palsu atau pihak ketiga.

