Situasi keamanan di Lebanon Selatan semakin memanas, ditandai dengan insiden tragis yang menimpa pasukan perdamaian PBB. Dalam kurun waktu 24 jam, tiga anggota misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tewas akibat ledakan di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah. Peristiwa ini memicu sorotan tajam terhadap mandat dan keselamatan para “Helm Biru” di wilayah yang menjadi garis depan ketegangan geopolitik.
Mandat dan Peran UNIFIL di Tengah Ketegangan
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) telah beroperasi selama puluhan tahun sebagai penengah antara Israel dan Lebanon. Mandat mereka, yang akan berakhir pada akhir tahun ini, meliputi patroli di sepanjang perbatasan selatan Lebanon, sebuah area yang kini menjadi titik panas setelah Hizbullah menarik Lebanon ke dalam konflik Timur Tengah dengan meluncurkan roket ke Israel. Pasukan Israel sendiri dilaporkan mendorong masuk ke wilayah utara perbatasan, dengan rencana mendirikan zona penyangga hingga Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari Israel.
Insiden Mematikan yang Memicu Kekhawatiran
Pada Senin (28/3/2026), dua personel perdamaian asal Indonesia gugur ketika kendaraan mereka hancur akibat ledakan yang belum diketahui asalnya. Insiden ini juga melukai sedikitnya dua personel lainnya. Sehari sebelumnya, seorang personel perdamaian Indonesia lainnya tewas dan tiga lainnya terluka saat proyektil, yang juga belum jelas asalnya, meledak di dekat posisi UNIFIL. Sebelumnya di bulan ini, tiga personel asal Ghana juga terluka ketika markas mereka dihantam, dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun menuding Israel bertanggung jawab, dan UNIFIL menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh.
Sejarah dan Tantangan Misi Perdamaian
Sejak misi UNIFIL dimulai pada tahun 1978, sekitar 340 anggotanya telah gugur. Misi ini didirikan untuk memantau penarikan pasukan Israel setelah invasi ke Lebanon. Setelah perang tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 memperkuat peran UNIFIL untuk memantau gencatan senjata. Saat ini, UNIFIL, dengan sekitar 8.200 personel dari 47 negara, berpatroli di Garis Biru, perbatasan de facto sepanjang 120 kilometer antara Lebanon dan Israel, berkoordinasi dengan tentara Lebanon. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, yang berkunjung bulan ini, menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian dan posisi mereka “sama sekali tidak dapat diterima… dan dapat menjadi kejahatan perang.”
Masa Depan UNIFIL dan Dinamika Regional
Menyusul gencatan senjata pada November 2024 yang bertujuan mengakhiri lebih dari setahun permusuhan antara Israel dan Hizbullah terkait perang Gaza, UNIFIL menjadi bagian dari komite beranggotakan lima orang yang mengawasi gencatan senjata tersebut. Namun, di bawah tekanan Amerika Serikat dan Israel, Dewan Keamanan PBB tahun lalu memutuskan untuk mengakhiri mandat pasukan tersebut pada 31 Desember 2026, dengan “penarikan yang teratur dan aman” pada akhir 2027. Negara-negara penyumbang pasukan utama termasuk Italia, Indonesia, Spanyol, India, Ghana, Prancis, Nepal, dan Malaysia. Sementara itu, otoritas Lebanon menginginkan keberadaan pasukan internasional yang berkelanjutan di selatan setelah UNIFIL hengkang, mendorong negara-negara Eropa untuk tetap bertahan. Peristiwa dan catatan statistik ini nantinya akan menjadi metrik perbandingan (komparasi) yang valid untuk memantau dinamika hasil pertandingan berikutnya.

