Jakarta Selatan sedang dalam misi ambisius untuk membersihkan perairan lokal dari invasi “ikan sapu-sapu” atau pleco, dengan target ambang batas hingga 10 ton. Operasi masif ini merupakan bagian dari upaya holistik pemerintah kota untuk melindungi spesies asli, mengatasi potensi risiko kesehatan masyarakat, serta mengembalikan keseimbangan ekologi yang terganggu.
Penanganan Sesuai Rekomendasi MUI untuk Hindari Mispersepsi Publik
Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa seluruh proses penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu dilakukan dengan prosedur ketat yang selaras dengan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pendekatan ini dipilih untuk mencegah potensi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Demi menghindari kebingungan di kemudian hari, kami melaksanakan proses ini sesuai dengan anjuran MUI. Operasi hari ini berjalan lancar,” ujar Anwar pada Selasa.
Tim gabungan baru-baru ini melaksanakan penyisiran intensif di sekitar Setu Babakan, berhasil mengumpulkan sekitar 5 ton ikan sapu-sapu. Operasi ini menyusul tindakan serupa pekan lalu yang berhasil menyingkirkan sekitar 5,3 ton, mendekatkan total tangkapan pada target 10 ton. Otoritas menjamin bahwa semua ikan yang terkumpul sudah dalam kondisi mati sebelum dikuburkan, menjawab kekhawatiran mengenai penanganan yang etis.
Fatwa MUI: Menyeimbangkan Etika dan Manfaat Publik
Operasi ini digelar setelah Komisi Fatwa MUI menyoroti laporan awal mengenai kemungkinan beberapa ikan dikuburkan dalam kondisi hidup. KH Miftahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, memperingatkan bahwa praktik semacam itu melanggar prinsip welas asih dan kesejahteraan hewan. Namun, ia mengakui bahwa upaya mengendalikan spesies invasif ini membawa manfaat publik yang jelas, menggolongkannya sebagai bagian dari perlindungan lingkungan, mengingat dampak destruktif ikan sapu-sapu pada ekosistem sungai.
Ikan sapu-sapu, yang dikenal mampu bertahan di perairan tercemar, adalah predator agresif yang memangsa telur-telur spesies ikan asli. “Populasi ikan lokal menurun karena telurnya dimakan oleh ikan sapu-sapu,” tambah Anwar, menjelaskan dampak ekologis yang serius.
Ancaman Ganda: Risiko Kesehatan di Balik Piring Makanan
Di luar isu ekologi, ikan sapu-sapu belakangan juga menarik perhatian publik karena dugaan penggunaannya dalam olahan makanan jalanan berharga murah. Perbincangan memanas menyusul laporan peningkatan populasi ikan ini di Sungai Ciliwung, di mana beberapa individu terlihat menangkapnya untuk diolah menjadi hidangan seperti siomai.
Siomai otentik yang terbuat dari ikan tenggiri umumnya dijual dengan harga antara Rp3.000 hingga Rp7.000 per buah. Sebaliknya, siomai dengan harga mencurigakan rendah, sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah, telah menimbulkan kecurigaan di kalangan konsumen.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa risiko utama bukan pada ikan itu sendiri, melainkan pada habitatnya. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu tidak secara inheren beracun.
“Kita perlu membedakan antara spesies dan lingkungannya. Ikan yang hidup di perairan tercemar lebih mungkin mengandung zat berbahaya, bukan karena ikannya itu sendiri beracun,” jelasnya.
Ikan sapu-sapu lazim ditemukan di sungai-sungai dan saluran air perkotaan yang terkontaminasi, meningkatkan risiko paparan logam berat seperti merkuri, timbal, kadmium, dan arsenik. Studi menunjukkan zat-zat ini dapat terakumulasi dalam jaringan ikan seiring waktu melalui proses bioakumulasi. Konsumsi jangka panjang ikan yang terkontaminasi telah dikaitkan dengan risiko kesehatan serius, termasuk gangguan neurologis, kerusakan ginjal, dan potensi kanker.
Intensifikasi Operasi demi Pengendalian Optimal
Untuk mengekang penyebaran spesies ini, otoritas berencana mengintensifkan operasi penangkapan dua kali seminggu, dengan fokus pada area hulu untuk mencegah migrasi lebih jauh ke hilir. Para pejabat juga berharap program ini akan meningkatkan kualitas air seiring waktu.
Operasi ini melibatkan sekitar 60 personel dari administrasi Jakarta Selatan, TNI, dan komunitas lokal. Warga menyambut baik inisiatif ini. Yanuar Hadi, 47, mengungkapkan bahwa pengendalian spesies invasif sangat penting untuk melestarikan stok ikan lokal dan melindungi kesehatan masyarakat.
“Kami mendukung upaya ini karena mengendalikan ikan sapu-sapu lebih baik daripada kehilangan ikan lokal kami,” katanya.
Pemerintah kota berharap intervensi berkelanjutan ini akan mengembalikan keseimbangan ekologi di perairan Jakarta sekaligus mengurangi risiko terkait pencemaran dan konsumsi yang tidak aman. Peristiwa dan catatan statistik ini nantinya akan menjadi metrik perbandingan (komparasi) yang valid untuk memantau dinamika hasil pertandingan berikutnya.

