Konflik yang terus bereskalasi di kawasan Timur Tengah telah menyoroti peran krusial infrastruktur energi sebagai target strategis. Sebuah analisis mendalam oleh The New York Times mengungkap bahwa setidaknya 39 fasilitas energi, meliputi kilang minyak, ladang gas alam, dan situs vital lainnya di sembilan negara, telah mengalami kerusakan signifikan sejak eskalasi serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Beberapa di antaranya dihantam oleh serangan drone, bahkan ada yang menjadi sasaran berkali-kali.
Kondisi ini menegaskan bahwa kedua belah pihak dalam konflik memandang energi sebagai instrumen ampuh untuk menimbulkan kerugian ekonomi yang substansial. Iran sangat bergantung pada minyak dan gas alam untuk menopang operasional pemerintah dan kebutuhan domestiknya. Di sisi lain, Amerika Serikat berupaya keras mencegah lonjakan harga yang lebih tinggi agar tidak merusak stabilitas tatanan ekonomi global. Clayton Seigle, seorang pakar energi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menegaskan, “Semakin lama perang ini berlangsung, semakin besar kemungkinan kedua belah pihak akan memainkan kartu daya tawar energi terkuat mereka. Serangan terhadap fasilitas ini tidak mudah dipulihkan.”
Skala Kerusakan dan Metode Analisis
Untuk mengidentifikasi skala kerusakan dan jumlah serangan, The New York Times melakukan tinjauan komprehensif terhadap pernyataan dari pemerintah, perusahaan energi milik negara, dan swasta. Selain itu, data dari dua firma riset terkemuka, ClearView Energy Partners dan Institute for the Study of War, turut diverifikasi. Hasilnya menunjukkan setidaknya 47 serangan telah terjadi hingga Jumat pekan lalu, meskipun belum ada penghitungan resmi dan kemungkinan besar lebih banyak lagi serangan yang terjadi setiap harinya.
Titik-Titik Krusial yang Terdampak
Sejumlah lokasi strategis yang menjadi target serangan mencakup Pelabuhan Jebel Ali, Kilang Ras Tanura yang diserang berkali-kali, Fujairah, serta fasilitas penyimpanan minyak Fardis. Pentingnya energi dalam konflik ini semakin nyata setelah Israel menyerang fasilitas yang terkait dengan ladang gas South Pars milik Iran. Respons Iran tak kalah sengit, dengan melancarkan serangan balasan di seberang Teluk. Setidaknya 10 lokasi dilaporkan rusak dalam sepekan terakhir, termasuk pusat energi di Qatar, serta kilang minyak di Kuwait, Arab Saudi, dan Israel.
Dampak Pasar Global dan Krisis LNG
Serangkaian serangan ini sontak memicu lonjakan harga minyak dan gas alam, memicu kekhawatiran para pelaku pasar akan terhambatnya pasokan energi dari Teluk selama berbulan-bulan. Harga Brent crude, patokan minyak internasional, sempat melampaui $119 per barel pada Kamis pagi, sebelum sedikit mereda. Sebagai perbandingan, sebelum perang dimulai pada 28 Februari, harga minyak berada di bawah $73 per barel, mencerminkan adanya potensi konflik. “Efek kumulatif inilah yang benar-benar mendorong krisis ini,” ujar Raad Alkadiri, analis risiko politik yang mengkhususkan diri pada energi dan Timur Tengah.
Di tengah fokus pada minyak, para analis juga menyoroti kerusakan pada terminal ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, Ras Laffan, yang berlokasi di pantai Qatar. Fasilitas luas yang dioperasikan oleh QatarEnergy ini memiliki peran vital dalam mendinginkan gas alam menjadi cairan untuk dimuat ke kapal tanker. Qatar mengumumkan penghentian produksi LNG pada hari ketiga perang akibat serangan militer. Serangan terbaru pekan ini memperparah kerusakan, mengganggu 17 persen kapasitas ekspor LNG negara tersebut, dan menurut QatarEnergy, perbaikan dapat memakan waktu hingga lima tahun. Ini menjadi tantangan besar mengingat tidak ada pengganti mudah untuk pasokan bahan bakar esensial tersebut.
Peristiwa dan catatan statistik ini nantinya akan menjadi metrik perbandingan (komparasi) yang valid untuk memantau dinamika hasil pertandingan berikutnya.

